A review on genetic algorithm: past, present, and future

Sourabh Katoch1 & Sumit Singh Chauhan1 & Vijay Kumar1

Received: 27 July 2020 /Revised: 12 October 2020 /Accepted: 23 October 2020

# Springer Science+Business Media, LLC, part of Springer Nature 2020

Published online: 31 October 2020


Abstrak

Dalam makalah ini, disampaikan analisis kemajuan terkini dalam algoritma genetik. Algoritma genetic yang sangat diminati dalam komunitas penelitian telah dipilih untuk dianalisis. Tulisan ini akan membantu peneliti baru dan yang sedang mencari cara untuk mendapatkan visi yang lebih luas tentang algoritma genetik. Algoritma yang terkenal ini disajikan implementasinya termasuk kelebihan dan kekurangannya. Operator genetik dan penggunaannya dibahas dengan tujuan untuk memfasilitasi peneliti baru. Disampaikan berbagai domain penelitian yang terlibat dalam algoritma genetic, juga  disampaikan arah penelitian masa depan dalam bidang operator genetik, fungsi fitness, dan algoritma hibrida. Tinjauan terstruktur ini akan membantu penelitian dan pengajaran di kelas pascasarjana.

Kata kunci : Optimasi, Metaheuristic, Algoritma genetic, Crossover, Mutasi, Seleksi, Evolusi.


 

 

Daftar Isi

Abstrak. 1

1 Pendahuluan. 4

2 Metodologi penelitian. 5

3 Latar Belakang. 6

3.1 GA Klasik. 6

3.2 Operator genetik. 8

3.2.1 Skema pengkodean. 8

3.2.2 Teknik seleksi 9

3.2.3 Operator persilangan. 10

3.2.4 Operator mutasi 13

4 Varian GA. 14

4.1 GA berkode riil dan biner. 14

4.1.1 GA berkode biner. 14

4.1.2 Real-coded GA. 14

4.2 Multiobjective GA. 16

4.2.1 Multiobjective GA berbasis Pareto. 16

4.2.2 GA multiobjektif berbasis dekomposisi 17

4.3 Parallel GA. 17

4.3.1 Master-slave parallel GA. 18

4.3.2 Fine grained parallel GA. 18

4.3.3 GA paralel berbutir kasar. 18

4.4 GA yang kacau (Chaotic GAs) 18

4.5 GA Hibrida. 19

4.5.1 Meningkatkan kemampuan pencarian. 19

4.5.2 Menghasilkan solusi yang layak. 19

4.5.3 Penggantian operator genetik. 20

4.5.4 Mengoptimalkan parameter kontrol 20

5 Aplikasi 20

5.1 Manajemen operasi 20

5.1.1 Tata letak fasilitas. 20

5.1.2 Penjadwalan. 20

5.1.3 Kontrol inventaris. 21

5.1.4 Peramalan dan desain jaringan. 21

5.2 Multimedia. 22

5.2.1 Keamanan informasi 22

5.2.2 Pemrosesan gambar. 22

5.2.3 Pemrosesan video. 22

5.2.4 Pencitraan medis. 23

5.2.5 Pertanian presisi 23

5.2.6 Game. 23

5.3 Jaringan nirkabel 23

5.3.1 Penyeimbangan beban. 24

5.3.2 Lokalisasi 24

5.3.3 Alokasi pita lebar dan kanal 24

6 Tantangan dan kemungkinan di masa mendatang. 25

6.1 Tantangan. 25

6.1.1 Pemilihan populasi awal 26

6.1.2 Konvergensi prematur. 26

6.1.3 Pemilihan fungsi fitness yang efisien. 26

6.1.4 Derajat mutasi dan persilangan. 26

6.1.5 Pemilihan skema penyandian. 26

6.2 Arah penelitian di masa mendatang. 27

7 Kesimpulan. 27

 


 

 

1 Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, algoritma metaheuristic telah banyak digunakan untuk memecahkan masalah yang rumit dalam kehidupan nyata, yang muncul dari berbagai bidang seperti ekonomi, teknik, politik, manajemen, dan rekayasa [113]. Intensifikasi dan diversifikasi merupakan elemen kunci dari algoritma metaheuristic. Keseimbangan yang tepat antara elemen-elemen ini diperlukan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata secara efektif. Sebagian besar algoritma metaheuristic terinspirasi dari proses evolusi biologis, perilaku kawanan, dan hukum fisika [17].

Algoritma ini secara umum diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu algoritma metaheuristic berbasis solusi tunggal dan algoritma metaheuristic berbasis populasi (Gbr. 1). Algoritma metaheuristic berbasis solusi tunggal memanfaatkan solusi kandidat tunggal dan meningkatkan solusi ini dengan menggunakan pencarian lokal. Namun, solusi yang diperoleh dari metaheuristic berbasis solusi tunggal mungkin terjebak dalam optimasi lokal [112].

Metaheuristic berbasis solusi tunggal yang terkenal adalah simulasi annealing, pencarian tabu (Tabu Search TS), mikrokanonik annealing (MA), dan pencarian lokal terpandu (GLS). Metaheuristic berbasis populasi memanfaatkan beberapa solusi kandidat selama proses pencarian. Metaheuristic ini mempertahankan keragaman dalam populasi dan menghindari solusi terjebak dalam optimasi lokal. Beberapa algoritma metaheuristic berbasis populasi yang terkenal adalah algoritma genetika (GA) [135], pengoptimalan kawanan partikel (particle swarm optimization PSO) [101], pengoptimalan koloni semut (ant colony optimization ACO) [47], pengoptimalan hyena tutul (spotted hyena Optimizer SHO) [41], pengoptimalan penguin kaisar (emperor penguin optimizer EPO) [42], dan pengoptimalan burung camar (seagull optimization SOA) [43].




Di antara algoritma metaheuristic, Algoritma Genetika (GA) merupakan algoritma yang terkenal, yang terinspirasi dari proses evolusi biologis [136]. GA meniru teori Darwin tentang survival of fittest di alam. GA diusulkan oleh J.H. Holland pada tahun 1992. Elemen dasar GA adalah representasi kromosom, seleksi fitness, dan operator yang terinspirasi dari biologi. Holland juga memperkenalkan elemen baru yaitu, inversi yang umumnya digunakan dalam implementasi GA [77]. Biasanya, kromosom mengambil format string biner. Dalam kromosom, setiap lokus (posisi spesifik pada kromosom) memiliki dua kemungkinan alel (bentuk varian gen) - 0 dan 1. Kromosom dianggap sebagai titik dalam ruang solusi. Ini diproses menggunakan operator genetik dengan mengganti populasinya secara berulang. Fungsi fitness digunakan untuk menetapkan nilai untuk semua kromosom dalam populasi [136]. Operator algoritma genetika yang terinspirasi dari biologi adalah seleksi (selection), mutase (mutation), dan persilangan (crossover). Dalam seleksi, kromosom dipilih berdasarkan nilai fitnessnya untuk diproses lebih lanjut. Dalam operator persilangan, lokus acak dipilih dan mengubah subsekuen antara kromosom untuk menciptakan keturunan. Dalam mutasi, beberapa bit kromosom akan dibalik secara acak berdasarkan probabilitas [77, 135, 136]. Pengembangan GA lebih lanjut berdasarkan operator, representasi, dan fitness telah berkurang.

Kontribusi utama dari makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Kerangka kerja umum GA dan GA hibrida dengan formulasi matematika.

2. Berbagai jenis operator genetik beserta kelebihan dan kekurangannya.

3. Varian GA beserta kelebihan dan kekurangannya.

4. Penerapan GA dalam bidang multimedia.

Tujuan utama dari makalah ini ada dua. Pertama, makalah ini menyajikan varian GA dan penerapannya di berbagai bidang. Kedua, makalah ini memperluas area penggunaan yang memungkinkan di berbagai bidang. Disampaikan berbagai jenis teknik persilangan, mutasi, seleksi, dan pengkodean. Disampaikan GA dengan tujuan tunggal, multi-tujuan, paralel, dan hibrida dengan kelebihan dan kekurangannya. Aplikasi multimedia GA juga diuraikan.

Makalah ini disusun sebagai berikut: Bagian 2 menyajikan metodologi yang digunakan untuk melakukan penelitian. Bagian 3 menyajikan Algoritma genetika klasik dan operator genetika. Bagian 4 menyajikan varian algoritma genetika dengan pro dan kontra. Bagian 5 menjelaskan aplikasi algoritma genetika. Bagian 6 menyajikan tantangan dan arah penelitian di masa mendatang, dan kesimpulan disampaikan di Bagian 7.

2 Metodologi penelitian

Pedoman PRISMA digunakan untuk melakukan peninjauan GA [138]. PRISMA : Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses (Item Pelaporan Pilihan untuk Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis). Pencarian terperinci telah dilakukan di Google Scholar dan PubMed untuk mengidentifikasi makalah penelitian yang terkait dengan GA.

Karya penelitian penting yang ditemukan selama pencarian manual juga ditambahkan dalam makalah ini. Selama pencarian, beberapa kata kunci seperti “Algoritma Genetika” atau “Penerapan GA” atau “operator GA” atau “representasi GA” atau “varian GA” digunakan. Pemilihan dan penolakan makalah penelitian yang dieksplorasi didasarkan pada prinsip-prinsip, yang disebutkan dalam Tabel 1.

Total 27.64.792 makalah penelitian dieksplorasi di Google Scholar, PubMed, dan pencarian manual. Pekerjaan penelitian yang terkait dengan algoritma genetika untuk aplikasi multimedia juga disertakan. Selama penyaringan makalah penelitian, semua makalah duplikat dan makalah yang diterbitkan sebelum 2007 dibuang. 4340 makalah penelitian dipilih berdasarkan entri tahun 2007 dan duplikat. Setelah itu, 4050 makalah penelitian dieliminasi berdasarkan judul. 220 makalah penelitian dieliminasi setelah membaca abstrak. 70 makalah penelitian ditinggalkan setelah putaran penyaringan ketiga. 40 makalah penelitian lainnya dibuang setelah membaca makalah lengkap dan fakta yang ditemukan dalam makalah. Setelah putaran penyaringan keempat, 30 makalah penelitian terakhir dipilih untuk ditinjau. Berdasarkan relevansi dan kualitas penelitian, 30 makalah dipilih untuk evaluasi. Relevansi penelitian diputuskan melalui beberapa kriteria, yang disebutkan dalam Tabel 1.

Makalah penelitian yang dipilih meliputi algoritma genetik untuk aplikasi multimedia, pengembangan operator genetik, dan hibridisasi algoritma genetik dengan algoritma metaheuristic lain yang sudah mapan. Kelebihan dan kekurangan operator genetik ditunjukkan pada bagian sebelumnya.

3 Latar Belakang

Pada bagian ini dibahas struktur dasar GA dan operator genetiknya beserta kelebihan dan kekurangannya.

3.1 GA Klasik

Algoritma genetik (GA) adalah algoritma optimasi yang terinspirasi dari seleksi alam. Ini adalah algoritma pencarian berbasis populasi, yang menggunakan konsep survival of fittest [135]. Populasi baru dihasilkan melalui penggunaan operator genetik secara berulang pada individu yang ada dalam populasi. Representasi kromosom, seleksi, persilangan, mutasi, dan perhitungan fungsi fitness adalah elemen kunci GA.

Prosedur GA adalah sebagai berikut:

1.     Populasi (Y) dengan n kromosom diinisialisasi secara acak.

2.     Fitness setiap kromosom di Y dihitung.

3.     Dua kromosom, yaitu C1 dan C2, dipilih dari populasi Y menurut nilai fitness.

4.     Operator crossover titik tunggal dengan probabilitas crossover (Cp) diterapkan pada C1 dan C2 untuk menghasilkan keturunan, katakanlah O.

5.     Setelah itu, operator mutasi seragam diterapkan pada keturunan yang dihasilkan (O) dengan probabilitas mutasi (Mp) untuk menghasilkan O′.

6.     Keturunan baru O′ ditempatkan pada populasi baru.

7.     Operasi seleksi, crossover, dan mutasi akan diulang pada populasi saat ini hingga populasi baru selesai.

Analisis matematis GA adalah sebagai berikut [126]:

GA secara dinamis mengubah proses pencarian melalui probabilitas crossover dan mutasi dan mencapai solusi optimal. GA dapat memodifikasi gen yang dikodekan. GA dapat mengevaluasi banyak individu dan menghasilkan banyak solusi optimal. Oleh karena itu, GA memiliki kemampuan pencarian global yang lebih baik. Keturunan yang dihasilkan dari crossover kromosom induk kemungkinan besar akan menghapus skema genetik kromosom induk yang mengagumkan dan rumus crossover didefinisikan sebagai [126]:

di mana g adalah jumlah generasi, dan G adalah jumlah total generasi evolusi yang ditetapkan oleh populasi. Dapat diamati dari Persamaan (1) bahwa R berubah secara dinamis dan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah generasi evolusi. Pada tahap awal GA, kesamaan antara individu sangat rendah. Nilai R harus rendah untuk memastikan bahwa populasi baru tidak akan merusak skema genetik individu yang unggul. Pada akhir evolusi, kesamaan antara individu sangat tinggi dan nilai R harus tinggi. Menurut teorema Skema, skema asli harus diganti dengan skema yang dimodifikasi. Untuk mempertahankan keragaman dalam populasi, skema baru mempertahankan populasi awal selama tahap awal evolusi. Pada akhir evolusi, skema yang sesuai akan diproduksi untuk mencegah distorsi skema genetik yang unggul [65, 75]. Algoritma 1 menunjukkan pseudocode dari algoritma genetik klasik.

Algorithm 1: Classical Genetic Algorithm (GA)

3.2 Operator genetik

GA menggunakan berbagai operator selama proses pencarian. Operator-operator ini adalah skema pengkodean, persilangan, mutasi, dan seleksi. Fig 2 menggambarkan operator-operator yang digunakan dalam GA.

3.2.1 Skema pengkodean

Untuk sebagian besar masalah komputasi, skema pengkodean (yaitu, untuk mengubah dalam bentuk tertentu) memainkan peran penting. Informasi yang diberikan harus dikodekan dalam string bit tertentu [121, 183]. Skema pengkodean dibedakan menurut domain masalah.

Skema pengkodean yang terkenal adalah biner, oktal, heksadesimal, permutasi, berbasis nilai, dan pohon. Pengkodean biner adalah skema pengkodean yang umum digunakan. Setiap gen atau kromosom direpresentasikan sebagai string 1 atau 0 [187]. Dalam pengkodean biner, setiap bit mewakili karakteristik solusi. Ini menyediakan implementasi operator persilangan dan mutasi yang lebih cepat. Namun, diperlukan upaya ekstra untuk mengonversi ke bentuk biner dan akurasi algoritma bergantung pada konversi biner. Aliran bit diubah sesuai masalah. Skema pengkodean biner tidak sesuai untuk beberapa masalah desain teknik karena epistasis dan representasi alami. Dalam skema pengkodean oktal, gen atau kromosom direpresentasikan dalam bentuk angka oktal (0–7). Dalam skema pengkodean heksadesimal, gen atau kromosom direpresentasikan dalam bentuk angka heksadesimal (0–9, A-F) [111, 125, 187].

Skema pengkodean permutasi umumnya digunakan dalam masalah pengurutan. Dalam skema pengkodean ini, gen atau kromosom direpresentasikan oleh serangkaian angka yang mewakili posisi dalam suatu urutan. Dalam skema pengkodean nilai, gen atau kromosom direpresentasikan menggunakan serangkaian beberapa nilai. Nilai-nilai ini dapat berupa angka riil, bilangan bulat, atau karakter [57]. Skema pengkodean ini dapat membantu dalam memecahkan masalah di mana nilai-nilai yang lebih rumit digunakan. Karena pengkodean biner dapat gagal dalam masalah seperti itu. Ini terutama digunakan dalam jaringan saraf untuk menemukan bobot optimal.

Dalam pengkodean pohon, gen atau kromosom direpresentasikan oleh pohon fungsi atau perintah. Fungsi dan perintah ini dapat dikaitkan dengan bahasa pemrograman apa pun. Hal ini sangat mirip dengan representasi represi dalam format pohon [88]. Jenis pengkodean ini umumnya digunakan dalam program atau ekspresi yang berkembang. Tabel 2 menunjukkan perbandingan berbagai skema pengkodean GA.

 

3.2.2 Teknik seleksi

Seleksi merupakan langkah penting dalam algoritma genetika yang menentukan apakah string tertentu akan berpartisipasi dalam proses reproduksi atau tidak. Langkah seleksi terkadang juga dikenal sebagai operator reproduksi [57, 88]. Laju konvergensi GA bergantung pada tekanan seleksi. Teknik seleksi yang terkenal adalah roda roulette, peringkat, turnamen, Boltzmann, dan pengambilan sampel universal stokastik. Seleksi roda roulette memetakan semua string yang mungkin ke dalam roda dengan sebagian roda dialokasikan untuk mereka sesuai dengan nilai fitnessnya. Roda ini kemudian diputar secara acak untuk memilih solusi spesifik yang akan berpartisipasi dalam pembentukan generasi berikutnya [88]. Namun, metode ini memiliki banyak masalah seperti kesalahan yang disebabkan oleh sifat stokastiknya. De Jong dan Brindle memodifikasi metode pemilihan roda roulette untuk menghilangkan kesalahan dengan memperkenalkan konsep determinisme dalam prosedur pemilihan. Pemilihan peringkat adalah bentuk modifikasi dari pemilihan roda roulette. Metode ini menggunakan peringkat sebagai pengganti nilai fitness. Peringkat diberikan kepada mereka sesuai dengan nilai fitness mereka sehingga setiap individu mendapat kesempatan untuk dipilih sesuai dengan peringkat mereka. Metode pemilihan peringkat mengurangi kemungkinan konvergensi solusi secara prematur ke minimum lokal [88].

Teknik seleksi turnamen pertama kali diusulkan oleh Brindle pada tahun 1983. Individu dipilih berdasarkan nilai fitness mereka dari roda roulette stokastik secara berpasangan. Setelah seleksi, individu dengan nilai fitness yang lebih tinggi ditambahkan ke kumpulan generasi berikutnya [88]. Dalam metode seleksi ini, setiap individu dibandingkan dengan semua n-1 individu lainnya jika mencapai populasi solusi akhir [88]. Pengambilan sampel universal stokastik (SUS) merupakan perluasan dari metode seleksi roda roulette yang sudah ada. Metode ini menggunakan titik awal acak dalam daftar individu dari suatu generasi dan memilih individu baru pada interval yang berjarak sama [3]. Metode ini memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu untuk dipilih untuk berpartisipasi dalam crossover untuk generasi berikutnya. Meskipun dalam kasus Travelling Salesman Problem, SUS berkinerja baik tetapi seiring dengan meningkatnya ukuran masalah, seleksi roda Roulette tradisional berkinerja relatif baik [180].

Seleksi Boltzmann didasarkan pada metode entropi dan pengambilan sampel, yang digunakan dalam Simulasi Monte Carlo. Ini membantu dalam memecahkan masalah konvergensi prematur [118]. Probabilitasnya sangat tinggi untuk memilih string terbaik, sementara itu dieksekusi dalam waktu yang sangat singkat. Namun, ada kemungkinan hilangnya informasi. Ini dapat dikelola melalui elitisme [175].

Seleksi elitisme diusulkan oleh K. D. Jong (1975) untuk meningkatkan kinerja seleksi roda Roulette. Ini memastikan individu elitis dalam satu generasi selalu disebarkan ke generasi berikutnya. Jika individu yang memiliki nilai fitness tertinggi tidak ada pada generasi berikutnya setelah prosedur seleksi normal, maka individu elitis juga disertakan dalam generasi berikutnya secara otomatis [88]. Perbandingan teknik seleksi yang disebutkan di atas digambarkan dalam Tabel 3.

3.2.3 Operator persilangan

Operator persilangan digunakan untuk menghasilkan keturunan dengan menggabungkan informasi genetik dari dua atau lebih orang tua. Operator persilangan yang terkenal adalah titik tunggal, titik dua, titik k, seragam, sebagian cocok, urutan, persilangan yang mempertahankan preseden, acak, pengganti yang dikurangi, dan siklus. Dalam persilangan titik tunggal, titik persilangan acak dipilih. Informasi genetik dari dua orang tua yang berada di luar titik tersebut akan ditukar satu sama lain [190].

Fig 3 menunjukkan informasi genetik setelah pertukaran. Ini menggantikan bit array ekor dari kedua orang tua untuk mendapatkan keturunan baru. Dalam persilangan dua titik dan titik k, dua atau lebih titik persilangan acak dipilih dan informasi genetik orang tua akan ditukar sesuai dengan segmen yang telah dibuat [190].

Fig 4 menunjukkan pertukaran informasi genetik antara titik persilangan. Segmen tengah orang tua diganti untuk menghasilkan keturunan baru. Dalam persilangan seragam, orang tua tidak dapat didekomposisi menjadi segmen. Orang tua dapat diperlakukan sebagai setiap gen secara terpisah. Kami secara acak memutuskan apakah kami perlu menukar gen dengan lokasi yang sama dari kromosom lain [190].

Fig 5 menggambarkan pertukaran individu dalam operasi persilangan seragam. Partially matched crossover (PMX) merupakan operator crossover yang paling sering digunakan. Operator ini memiliki kinerja yang lebih baik daripada sebagian besar operator crossover lainnya. Partially matched crossover (mapped) diusulkan oleh D. Goldberg dan R. Lingle [66]. Dua orang tua dipilih untuk dikawinkan. Satu orang tua menyumbangkan sebagian materi genetik dan bagian yang sesuai dari orang tua lainnya berpartisipasi dalam anak. Setelah proses ini selesai, alel yang tertinggal disalin dari orang tua kedua [83]. Fig 6 menggambarkan contoh PMX.

Order crossover (OX) diusulkan oleh Davis pada tahun 1985. OX menyalin satu (atau lebih) bagian induk ke keturunan dari titik potong yang dipilih dan mengisi ruang yang tersisa dengan nilai selain yang disertakan dalam bagian yang disalin. Varian OX diusulkan oleh berbagai peneliti untuk berbagai jenis masalah. OX berguna untuk masalah pemesanan [166].

Namun, ditemukan bahwa OX kurang efisien dalam kasus Travelling Salesman Problem [140] Precedence preservation crossover (PPX) mempertahankan pemesanan solusi individual seperti yang ada pada induk keturunan sebelum penerapan crossover. Keturunan diinisialisasi ke string ‘1’ dan ‘0’ acak yang memutuskan apakah individu dari kedua induk akan dipilih atau tidak. Dalam [169], penulis mengusulkan versi PPX yang dimodifikasi untuk masalah penjadwalan multi-objektif. Shuffle crossover diusulkan oleh Eshelman et al. [20] untuk mengurangi bias yang diperkenalkan oleh teknik crossover lainnya. Ia mengacak nilai solusi individual sebelum persilangan dan membatalkan pengacakan setelah operasi persilangan dilakukan sehingga titik persilangan tidak menimbulkan bias apa pun dalam persilangan. Akan tetapi, pemanfaatan persilangan ini sangat terbatas dalam beberapa tahun terakhir. Reduced surrogate crossover (RCX) mengurangi persilangan yang tidak perlu jika induk memiliki urutan gen yang sama untuk representasi solusi [20, 139]. RCX didasarkan pada asumsi bahwa GA menghasilkan individu yang lebih baik jika induk cukup beragam dalam komposisi genetiknya. Akan tetapi, RCX tidak dapat menghasilkan individu yang lebih baik untuk induk yang memiliki komposisi yang sama. Persilangan siklus diusulkan oleh Oliver [140]. Ia mencoba menghasilkan keturunan menggunakan induk di mana setiap elemen menempati posisi dengan merujuk pada posisi induknya [140]. Pada siklus pertama, ia mengambil beberapa elemen dari induk pertama. Pada siklus kedua, ia mengambil elemen yang tersisa dari induk kedua seperti yang ditunjukkan pada Fig 7.

Tabel 4 menunjukkan perbandingan teknik persilangan. Dari Tabel 4 dapat diamati bahwa teknik persilangan tunggal dan k-titik mudah diterapkan. Persilangan seragam cocok untuk subset besar. Persilangan orde dan siklus memberikan eksplorasi yang lebih baik daripada teknik persilangan lainnya. Persilangan yang sebagian cocok memberikan eksplorasi yang lebih baik. Kinerja persilangan yang sebagian cocok lebih baik daripada teknik persilangan lainnya. Persilangan pengganti dan siklus yang dikurangi mengalami konvergensi prematur.

3.2.4 Operator mutasi

Mutasi adalah operator yang mempertahankan keragaman genetik dari satu populasi ke populasi berikutnya. Operator mutasi yang terkenal adalah perpindahan, inversi sederhana, dan mutasi acak. Operator mutasi perpindahan (Displacement Mutatuin, DM) memindahkan substring dari solusi individu yang diberikan di dalam dirinya sendiri. Tempat tersebut dipilih secara acak dari substring yang diberikan untuk perpindahan sehingga solusi yang dihasilkan valid serta mutasi perpindahan acak. Ada varian DM yaitu mutasi pertukaran dan mutasi penyisipan. Dalam operator mutasi pertukaran dan mutasi penyisipan, bagian dari solusi individu dipertukarkan dengan bagian lain atau disisipkan di lokasi lain, masing-masing [88].

Operator mutasi inversi sederhana (SIM) membalikkan substring antara dua lokasi yang ditentukan dalam solusi individu. SIM adalah operator inversi yang membalikkan string yang dipilih secara acak dan menempatkannya di lokasi acak [88]. Operator mutasi acak (SM) menempatkan elemen-elemen dalam rentang tertentu dari solusi individual dalam urutan acak dan memeriksa apakah nilai fitness dari solusi yang baru-baru ini dihasilkan ditingkatkan atau tidak [88]. Tabel 5 menunjukkan perbandingan teknik mutasi yang berbeda.

Tabel 6 menunjukkan kombinasi terbaik dari skema pengkodean, mutasi, dan teknik persilangan. Dari tersebut dapat diamati bahwa persilangan seragam dan titik tunggal dapat digunakan dengan sebagian besar operator pengkodean dan mutasi. Persilangan yang sebagian cocok digunakan dengan skema pengkodean inversi mutasi dan permutasi memberikan solusi optimal.

4 Varian GA

Berbagai varian GA telah diusulkan oleh para peneliti. Varian GA secara umum diklasifikasikan ke dalam lima kategori utama yaitu, GA berkode riil dan biner, GA multiobjektif, GA paralel, GA chaos, dan GA hibrida. Kelebihan dan kekurangan algoritma ini beserta penerapannya telah dibahas di subbagian sebelumnya.

4.1 GA berkode riil dan biner

Berdasarkan representasi kromosom, GA dikategorikan ke dalam dua kelas, yaitu GA biner dan GA berkode riil.

4.1.1 GA berkode biner

Representasi biner digunakan untuk mengode GA dan dikenal sebagai GA biner. Operator genetik juga dimodifikasi untuk menjalankan proses pencarian. Payne dan Glen [153] mengembangkan GA biner untuk mengidentifikasi kesamaan di antara molekul. Mereka menggunakan representasi biner untuk posisi molekul dan konformasinya. Namun, metode ini memiliki rumititas komputasi yang tinggi. Longyan dkk. [203] menyelidiki tiga metode berbeda untuk desain ladang angin menggunakan GA biner (BGA). Metode mereka menghasilkan nilai fitness dan efisiensi ladang yang lebih baik. Shukla dkk. [185] memanfaatkan BGA untuk pemilihan subset fitur. Mereka menggunakan konsep maksimalisasi informasi bersama untuk memilih fitur-fitur yang signifikan. BGA mengalami tebing Hamming, skema yang tidak merata, dan kesulitan dalam mencapai presisi [116, 199]

4.1.2 Real-coded GA

Real-coded GA (RGA) telah banyak digunakan dalam berbagai aplikasi kehidupan nyata. Representasi kromosom terkait erat dengan masalah kehidupan nyata. Keunggulan utama RGA adalah tangguh, efisien, dan akurat. Namun, RGA mengalami konvergensi prematur. Para peneliti tengah berupaya mengembangkan RGA untuk meningkatkan kinerjanya. Sebagian besar RGA dikembangkan dengan memodifikasi operator persilangan, mutasi, dan seleksi.

Operator persilangan

Kemampuan pencarian operator persilangan tidak memuaskan untuk ruang pencarian berkelanjutan. Pengembangan operator persilangan telah dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya dalam lingkungan nyata. Wright [210] menyajikan persilangan heuristik yang diterapkan pada induk untuk menghasilkan keturunan. Michalewicz [135] mengusulkan operator persilangan aritmatika untuk RGA. Deb dan Agrawal [34] mengembangkan operator persilangan berkode nyata, yang didasarkan pada karakteristik persilangan titik tunggal dalam BGA. Operator persilangan yang dikembangkan dinamai sebagai persilangan biner tersimulasi (SBX). SBX mampu mengatasi masalah Hamming cliff, presisi, dan pemetaan tetap. Kinerja SBX tidak memuaskan dalam fungsi blok dua variabel. Eshelman dkk. [53] memanfaatkan konsep skema untuk merancang blend crossover untuk RGA. Operator crossover distribusi normal unimodal (UNDX) dikembangkan oleh Ono dkk. [144]. Mereka menggunakan distribusi probabilitas elipsoidal untuk menghasilkan keturunan. Kita dkk. [106] menyajikan UNDX multi-parent (MP-UNDX), yang merupakan perluasan dari [144]. Namun, kinerja RGA dengan MP-UNDX sangat mirip dengan UNDX. Deep dan Thakur [39] menyajikan crossover Laplace untuk RGA, yang didasarkan pada distribusi Laplacian. Chuang dkk. [27] mengembangkan crossover berbasis arah untuk lebih mengeksplorasi semua kemungkinan arah pencarian. Namun, arah pencarian terbatas. Operator crossover distribusi normal heuristik dikembangkan oleh Wangetal. [207]. Ini menghasilkan keturunan yang dihasilkan secara silang untuk operasi pencarian yang lebih baik. Namun, individu yang lebih baik tidak dipertimbangkan dalam pendekatan ini. Subbaraj dkk. [192] mengusulkan RCGA adaptif mandiri Taguchi. Mereka menggunakan metode Taguchi dan simulasi persilangan biner untuk memanfaatkan keturunan yang mampu.

Operator mutasi.

Operator mutasi menghasilkan keragaman dalam populasi. Dua tantangan utama yang harus diatasi selama penerapan mutasi. Pertama, probabilitas operator mutasi yang diterapkan pada populasi. Kedua, outlier yang dihasilkan dalam kromosom setelah proses mutasi. Michalewicz [135] menyajikan operator mutasi seragam dan tidak seragam untuk RGA. Michalewicz dan Schoenauer [136]

Michalewicz dan Schoenauer [136] mengembangkan kasus khusus mutasi seragam. Mereka mengembangkan mutasi batas. Deep dan Thakur [38] menyajikan operator mutasi baru berdasarkan hukum daya dan dinamakan mutasi daya. Das dan Pratihar [30] menyajikan operator mutasi eksponensial berbasis arah. Mereka menggunakan informasi arah variabel. Tang dan Tseng [196] menyajikan operator mutasi baru untuk meningkatkan kinerja RCGA. Pendekatan mereka cepat dan andal. Namun, pendekatan tersebut terjebak dalam optima lokal untuk beberapa aplikasi. Debet al. [35] mengembangkan mutasi polinomial yang digunakan dalam RCGA. Pendekatan tersebut memberikan eksplorasi yang lebih baik. Namun, kecepatan konvergensi lambat dan terjebak dalam optima lokal. Lucasius et al. [129] mengusulkan algoritma genetika berkode-nyata (RCGA). Pendekatan tersebut sederhana dan mudah diimplementasikan. Namun, pendekatan tersebut mengalami masalah optima lokal. Wang et al. [205] mengembangkan GA multi-keturunan dan menyelidiki kinerjanya melalui persilangan titik tunggal. Wang et al. [206] menyatakan dasar teoritis GA multi keturunan. Kinerja metode ini lebih baik daripada GA non-multi-keturunan. Pattanaik et al. [152] menyajikan peningkatan dalam RCGA. Metode mereka memiliki kecepatan konvergensi dan kualitas solusi yang lebih baik. Wang et al. [208] mengusulkan RCGA multi keturunan dengan persilangan berbasis arah untuk memecahkan masalah terbatas. Tabel 7 menunjukkan formulasi matematika operator genetik dalam RGA.

 

4.2 Multiobjective GA

Multiobjective GA (MOGA) adalah versi modifikasi dari GA sederhana. MOGA berbeda dari GA dalam hal penugasan fungsi fitness. Langkah-langkah yang tersisa mirip dengan GA. Motif utama multiobjective GA adalah untuk menghasilkan Pareto Front yang optimal dalam ruang objektif sedemikian rupa sehingga tidak ada peningkatan lebih lanjut dalam fungsi fitness apa pun tanpa mengganggu fungsi fitness lainnya [123].

Konvergensi, keragaman, dan cakupan adalah tujuan utama multiobjective GA. Multiobjective GA secara luas dikategorikan menjadi dua kategori yaitu, berbasis Pareto, dan multiobjective GA berbasis dekomposisi [52]. Teknik-teknik ini dibahas dalam subbagian sebelumnya.

4.2.1 Multiobjective GA berbasis Pareto

Konsep dominasi Pareto diperkenalkan dalam multiobjective GA. Fonseca dan Fleming [56]

mengembangkan multiobjective GA (MOGA) pertama. Konsep ceruk dan pembuat keputusan diusulkan untuk mengatasi masalah multimoda. Namun, MOGA mengalami masalah penyetelan parameter dan tingkat tekanan seleksi. Horn dkk. [80] mengusulkan algoritma genetik Pareto ceruk (NPGA) yang memanfaatkan konsep seleksi turnamen dan dominasi Pareto. Srinivas dan Deb [191] mengembangkan algoritma genetik penyortiran non-dominasi (NSGA). Namun, algoritma ini mengalami kekurangan elitisme, kebutuhan untuk berbagi parameter, dan rumititas komputasi yang tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, Deb dkk. [36] mengembangkan algoritma genetik penyortiran non-dominasi elitis cepat (NSGA-II). Kinerja NSGA-II dapat memburuk untuk banyak masalah objektif. NSGA-II tidak dapat mempertahankan keragaman di Pareto-front. Untuk mengatasi masalah ini, Luo dkk. [130] memperkenalkan jarak kepadatan dinamis di NSGA-II. Coello dan Pulido [28] mengembangkan mikro GA multiobjektif. Mereka menggunakan arsip untuk menyimpan solusi yang tidak didominasi. Kinerja pendekatan berbasis Pareto dapat memburuk dalam banyak masalah objektif [52].

4.2.2 GA multiobjektif berbasis dekomposisi

MOGA berbasis dekomposisi menguraikan masalah yang diberikan menjadi beberapa submasalah.

Submasalah ini dipecahkan secara bersamaan dan bertukar solusi di antara submasalah yang berdekatan [52]. Ishibuchi dan Murata [84] mengembangkan pencarian lokal genetik multiobjektif (MOGLS). Dalam MOGLS, bobot acak digunakan untuk memilih induk dan pencarian lokal untuk keturunannya.

Mereka menggunakan metode penggantian generasi dan pemilihan roda roulette. Jaszkiewicz [86] memodifikasi MOGLS dengan memanfaatkan mekanisme pemilihan yang berbeda untuk induk. Murata dan Gen [141] mengusulkan algoritma genetik seluler untuk optimasi multiobjektif (C-MOGA) yang merupakan perluasan dari MOGA. Mereka menambahkan struktur seluler dalam MOGA. Dalam C-MOGA, operator pemilihan dilakukan pada tetangga setiap sel. C-MOGA selanjutnya diperluas dengan memperkenalkan prosedur imigrasi dan dikenal sebagai CI-MOGA. Alves dan Almeida [11] mengembangkan algoritma genetika multiobjektif berbasis Tchebycheffs (MOTGA) yang memastikan konvergensi dan keberagaman. Fungsi skalar Tchebycheff digunakan untuk menghasilkan himpunan solusi yang tidak didominasi. Patel dkk. [151] mengusulkan MOGA berbasis dekomposisi (D-MOGA). Mereka mengintegrasikan pembelajaran berbasis oposisi dalam D-MOGA untuk pembangkitan vektor bobot. D-MOGA mampu menjaga keseimbangan antara keberagaman solusi dan eksplorasi ruang pencarian.

4.3 Parallel GA

Motivasi di balik parallel GA adalah untuk meningkatkan waktu komputasi dan kualitas solusi melalui individu yang terdistribusi. ParallelGA dikategorikan ke dalam tiga kategori besar seperti master-slave parallel GA, fine grained parallel GA, dan multi-population coarsegrained parallelGa [70]. Dalam master-slave parallel GA, komputasi fungsi fitness didistribusikan ke beberapa prosesor. Dalam fine grained GA, komputer paralel digunakan untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Operator genetik dibatasi pada lingkungan sekitar. Namun, interaksi diperbolehkan di antara individu. Dalam rough grained GA, pertukaran individu di antara subpopulasi dilakukan. Parameter kontrol juga ditransfer selama migrasi. Tantangan utama dalam parallel GA adalah memaksimalkan bandwidth memori dan mengatur thread untuk memanfaatkan kekuatan GPU [23]. Tabel 8 menunjukkan analisis komparatif parallel GA dalam hal perangkat keras dan perangkat lunak. Parallel GA yang terkenal dipelajari di subbagian sebelumnya.

4.3.1 Master-slave parallel GA

Jumlah prosesor yang banyak digunakan dalam master-slave parallel GA (MS-PGA) dibandingkan dengan pendekatan lain. Perhitungan fungsi fitness dapat ditingkatkan dengan meningkatkan jumlah prosesor. Hongetal.[79] menggunakan MS-PGA untuk memecahkan masalah penambangan data. Aturan fuzzy digunakan dengan parallel GA. Evaluasi fungsi fitness dilakukan pada mesin slave. Namun, hal itu membutuhkan waktu komputasi yang tinggi. Sahingzo [174] menerapkan MS-PGA untuk masalah pencarian jalur UAV. Operator genetik dieksekusi pada prosesor. Mereka menggunakan CPU multicore dengan empat inti. Evaluasi seleksi dan fitness dilakukan pada mesin slave. MS-PGA diterapkan pada masalah penugasan lalu lintas di [127]. Mereka menggunakan tiga puluh prosesor untuk menyelesaikan masalah ini di Universitas Nasional Singapura. Yanget al. [213] mengembangkan GA paralel berbasis web. Mereka menerapkan versi master slave NSGA-II di lingkungan terdistribusi. Namun, sistemnya rumit

4.3.2 Fine grained parallel GA

Dalam beberapa dekade terakhir, para peneliti tengah berupaya mengembangkan kebijakan migrasi fine grained parallel GA (FG PGA). Porta dkk. [161] memanfaatkan clock-time untuk frekuensi migrasi, yang tidak bergantung pada generasi. Mereka menggunakan struktur yang tidak seragam dan konfigurasi statis. Solusi terbaik dipilih untuk migrasi dan solusi terburuk diganti dengan solusi migran. Kurdi [115] menggunakan frekuensi migrasi adaptif. Prosedur migrasi dimulai hingga tidak ada perubahan dalam solusi yang diperoleh setelah sepuluh generasi berturut-turut. Struktur yang tidak seragam dan dinamis digunakan. Dalam [209], solusi terbaik lokal disinkronkan dan membentuk solusi terbaik global. Solusi terbaik global ditransfer ke semua prosesor untuk eksekusi awal. Frekuensi migrasi bergantung pada jumlah generasi. Mereka menggunakan struktur seragam dengan konfigurasi tetap. Zhang dkk. [220] menggunakan parallel GA untuk memecahkan masalah set cover jaringan nirkabel. Mereka menggunakan strategi bagi-dan-taklukkan untuk menguraikan populasi menjadi subpopulasi. Selanjutnya, operator genetik diterapkan pada solusi lokal dan Kuhn-Munkres digunakan untuk menggabungkan solusi lokal.

4.3.3 GA paralel berbutir kasar

Pineletal.[158] mengusulkan GraphCell. Populasi diinisialisasi dengan nilai acak dan satu solusi diinisialisasi dengan teknik heuristik Min-min. 448 prosesor digunakan untuk mengimplementasikan pendekatan yang diusulkan. Namun, GA paralel berbutir kasar lebih jarang digunakan karena sifatnya yang rumit. GA paralel hibrida digunakan secara luas dalam berbagai aplikasi. Shayeghi et al. [182] mengusulkan GA kluster Birmingham berbasis pool. Node master bertanggung jawab untuk mengelola populasi global. Node slave memilih solusi dari populasi global dan mengeksekusinya. 240 prosesor digunakan untuk komputasi. Roberge et al. [170] menggunakan pendekatan hibrida untuk mengoptimalkan sudut switching inverter. Mereka menggunakan empat strategi berbeda untuk komputasi fungsi fitness. Saat ini, GPU, cloud, dan grid adalah perangkat keras paling populer untuk GA paralel [198].

4.4 GA yang kacau (Chaotic GAs)

Kelemahan utama GA adalah konvergensi prematur. Sistem yang kacau dimasukkan ke dalam GA untuk mengatasi masalah ini. Keragaman algoritma genetika yang kacau menghilangkan konvergensi prematur. Operator crossover dan mutasi dapat diganti dengan peta yang kacau. Tiong et al. [197] mengintegrasikan peta yang kacau ke dalam GA untuk peningkatan akurasi lebih lanjut. Mereka menggunakan enam peta yang kacau yang berbeda. Kinerja GA yang kacau Logistik, Henon, dan Ikeda berkinerja lebih baik daripada GA klasik. Namun, teknik-teknik ini memiliki rumititas komputasi yang tinggi. Ebrahimzadeh dan Jampour [48] menggunakan Lorenz yang kacau untuk operator genetik GA guna menghilangkan masalah optima lokal. Namun, pendekatan yang diusulkan tidak dapat menemukan hubungan antara entropi dan peta yang kacau. Javidi dan Hosseinpourfard [87] menggunakan dua peta yang kacau yaitu peta logistik dan peta tenda untuk menghasilkan nilai yang kacau alih-alih pemilihan acak populasi awal. GA yang kacau yang diusulkan berkinerja lebih baik daripada GA. Akan tetapi, metode ini memiliki rumititas komputasi yang tinggi. Fuertes et al. [60] mengintegrasikan entropi ke dalam GA chaos. Parameter kontrol dimodifikasi melalui peta chaos. Mereka menyelidiki hubungan antara entropi dan pengoptimalan kinerja. Sistem chaos juga telah digunakan dalam GA multiobjektif dan hibrida. Abo-Elnaga dan Nasr [5] mengintegrasikan sistem chaos ke dalam GA yang dimodifikasi untuk memecahkan masalah pemrograman dua tingkat. Sistem chaos membantu algoritma yang diusulkan untuk mengurangi optima lokal dan meningkatkan konvergensi. Tahir et al. [193] menyajikan GA chaos biner untuk pemilihan fitur dalam perawatan kesehatan. Peta chaos digunakan untuk menginisialisasi populasi dan operator reproduksi yang dimodifikasi diterapkan pada populasi. Xu et al. [115] mengusulkan GA imun hibrida chaos untuk alokasi spektrum. Pendekatan yang diusulkan memanfaatkan keunggulan operator chaos dan imun. Akan tetapi, metode ini memiliki masalah inisialisasi parameter.

4.5 GA Hibrida

Algoritma Genetika dapat dengan mudah dihibridisasi dengan metode optimasi lain untuk meningkatkan kinerjanya seperti metode penghilangan derau gambar, optimasi reaksi kimia, dan masih banyak lagi.

Keuntungan utama GA hibrida dengan metode lain adalah kualitas solusi yang lebih baik, efisiensi yang lebih baik, jaminan solusi yang layak, dan parameter kontrol yang dioptimalkan [51]. Dapat diamati dari literatur bahwa kemampuan pengambilan sampel GA sangat dipengaruhi oleh ukuran populasi. Untuk mengatasi masalah ini, algoritma pencarian lokal seperti algoritma memetik, Baldwinian, Lamarckian, dan pencarian lokal telah diintegrasikan dengan GA. Integrasi ini memberikan keseimbangan yang tepat antara intensifikasi dan diversifikasi. Masalah lain dalam GA adalah pengaturan parameter. Menemukan parameter kontrol yang tepat adalah tugas yang membosankan. Teknik metaheuristic lainnya dapat digunakan dengan GA untuk mengatasi masalah ini. GA hibrida telah digunakan untuk menyelesaikan masalah yang disebutkan dalam subbagian sebelumnya [29, 137, 186].

 

4.5.1 Meningkatkan kemampuan pencarian

GA telah diintegrasikan dengan algoritma pencarian lokal untuk mengurangi pergeseran genetik. Operator penyempurnaan eksplisit diperkenalkan dalam pencarian lokal untuk menghasilkan solusi yang lebih baik. El-Mihoub dkk. [54] menetapkan efek probabilitas pencarian lokal pada ukuran populasi GA. Espinoza dkk. [50] menyelidiki efek pencarian lokal untuk mengurangi ukuran populasi GA. Berbagai algoritma pencarian telah diintegrasikan dengan GA untuk menyelesaikan aplikasi kehidupan nyata.

4.5.2 Menghasilkan solusi yang layak

Dalam masalah yang rumit dan berdimensi tinggi, operator genetik GA menghasilkan solusi yang tidak layak. Persilangan PMX menghasilkan solusi yang tidak layak untuk masalah berbasis pesanan. Operator persilangan yang menjaga jarak dikembangkan untuk menghasilkan solusi yang layak untuk masalah salesman keliling [58]. Operator pengumpulan gen sebagai pengganti persilangan digunakan untuk menghasilkan solusi yang layak untuk pengelompokan data [19]. Konak dan Smith [108] mengintegrasikan algoritma pemotongan-saturasi dengan GA untuk merancang jaringan komunikasi. Mereka menggunakan persilangan seragam untuk menghasilkan solusi yang layak.

4.5.3 Penggantian operator genetik

Ada kemungkinan untuk mengganti operator genetik yang disebutkan dalam Bagian 3.2 dengan teknik pencarian lainnya. Leng [122] mengembangkan GA terpandu yang memanfaatkan penalti dari pencarian lokal terpandu. Penalti ini digunakan dalam fungsi fitness untuk meningkatkan kinerja GA. Headar dan Fukushima [74] menggunakan persilangan simpleks d sebagai ganti persilangan standar. Operator mutasi standar diganti dengan simulasi anil dalam [195]. Konsep dasar komputasi kuantum digunakan untuk meningkatkan kinerja GA. Persilangan heuristik dan operator hill-climbing dapat diintegrasikan ke dalam GA untuk memecahkan masalah three-matching problem.

4.5.4 Mengoptimalkan parameter kontrol

Parameter kontrol GA memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan antara intensifikasi dan diversifikasi. Logika fuzzy memiliki kemampuan untuk memperkirakan parameter kontrol GA yang tepat [167]. Selain itu, GA dapat digunakan untuk mengoptimalkan parameter kontrol teknik lainnya. GA telah digunakan untuk mengoptimalkan laju pembelajaran, bobot, dan topologi jaringan netral [21]. GA dapat digunakan untuk memperkirakan nilai optimal keanggotaan fuzzy dalam pengontrol. GA juga digunakan untuk mengoptimalkan parameter kontrol ACO, PSO, dan teknik metaheuristic lainnya [156]. Analisis komparatif GA yang terkenal disebutkan dalam Tabel 9.

5 Aplikasi

Algoritma Genetika telah diterapkan dalam berbagai masalah NP-hard dengan tingkat akurasi yang tinggi. Ada beberapa area aplikasi di mana GA telah berhasil diterapkan.

5.1 Manajemen operasi

GA merupakan metaheuristic yang efisien untuk memecahkan masalah manajemen operasi (OM) seperti masalah tata letak fasilitas (FLP), desain jaringan pasokan, penjadwalan, peramalan, dan pengendalian inventaris.

5.1.1 Tata letak fasilitas

Datta dkk. [32] memanfaatkan GA untuk memecahkan masalah tata letak fasilitas baris tunggal (SRFLP). Untuk SRFLP, operator crossover dan mutasi GA yang dimodifikasi menghasilkan solusi yang valid. Mereka menerapkan GA pada masalah berukuran besar yang terdiri dari 60–80 contoh. Namun, GA mengalami masalah ketergantungan parameter. Sadrzadeh [173] mengusulkan GA untuk FLP multi-baris yang memiliki banyak produk. Fasilitas dikelompokkan menggunakan operator mutasi dan heuristik. Total biaya yang diperoleh dari GA yang diusulkan berkurang sebesar 7,2% dibandingkan dengan algoritma lainnya. Wu dkk. [211] menerapkan GA hierarkis untuk mengetahui tata letak sistem manufaktur seluler. Namun, kinerja GA sangat dipengaruhi oleh operator genetik. Aiello dkk. [7] mengusulkan MOGA untuk FLP. Mereka menggunakan MOGA pada tata letak dua puluh departemen yang berbeda. Palomo-Romero dkk. [148] mengusulkan GA model pulau untuk memecahkan FLP. Teknik yang diusulkan mempertahankan keragaman populasi dan menghasilkan solusi yang lebih baik daripada teknik yang ada. Namun, teknik ini memiliki strategi migrasi yang tidak tepat yang dapat digunakan untuk meningkatkan populasi. GA dan variannya telah berhasil diterapkan pada FLP [103, 119, 133, 201].

5.1.2 Penjadwalan

GA menunjukkan kinerja yang unggul untuk memecahkan masalah penjadwalan seperti penjadwalan job-shop (JSS), perencanaan dan penjadwalan proses terintegrasi (IPPS), dll. [119]. Untuk meningkatkan kinerja di area penjadwalan yang disebutkan di atas, para peneliti mengembangkan berbagai representasi genetik [12, 159, 215], operator genetik, dan GA hibrida dengan metode lain [2, 67, 147, 219].

5.1.3 Kontrol inventaris

Selain penjadwalan, kontrol inventaris memegang peranan penting dalam OM. Pemesanan ulang dan penjualan yang hilang merupakan dua pendekatan utama untuk kontrol inventaris [119]. Hiassat dkk. [76] menggunakan model lokasi-inventaris untuk mengetahui jumlah dan lokasi gudang. Berbagai kendala desain telah ditambahkan dalam fungsi objektif GA dan variannya untuk memecahkan masalah kontrol inventaris [].

5.1.4 Peramalan dan desain jaringan

Peramalan merupakan komponen penting untuk OM. Para peneliti tengah berupaya melakukan peramalan perdagangan finansial, permintaan logistik, dan kedatangan wisatawan. GA telah dihibridisasi dengan regresi vektor pendukung, himpunan fuzzy, dan jaringan saraf (NN) untuk meningkatkan kemampuan peramalannya [22, 78, 89, 178, 214]. Desain jaringan pasokan sangat memengaruhi perencanaan dan penjadwalan operasi. Sebagian besar artikel penelitian difokuskan pada kendala kapasitas fasilitas [45, 184]. Masalah multiproduk multiperiode meningkatkan rumititas jaringan pasokan. Untuk mengatasi masalah yang disebutkan di atas, GA telah dihibridisasi dengan teknik lain [6, 45, 55, 188, 189]. GA multi-objektif juga digunakan untuk mengoptimalkan biaya, laba, emisi karbon, dll. [184, 189].

5.2 Multimedia

GA telah diterapkan di berbagai bidang multimedia. Beberapa bidang multimedia yang terkenal adalah enkripsi, pemrosesan gambar, pemrosesan video, pencitraan medis, dan permainan.

5.2.1 Keamanan informasi

Karena perkembangan aplikasi multimedia, gambar, video, dan audio ditransfer dari satu tempat ke tempat lain melalui Internet. Telah ditemukan dalam literatur bahwa gambar lebih rentan terhadap kesalahan selama transmisi. Oleh karena itu, teknik perlindungan gambar seperti enkripsi, watermarking, dan kriptografi diperlukan. Teknik enkripsi gambar klasik memerlukan parameter input untuk enkripsi. Pemilihan parameter input yang salah akan menghasilkan hasil enkripsi yang tidak memadai. GA dan variannya telah digunakan untuk memilih parameter kontrol yang tepat. Kaur dan Kumar [96] mengembangkan algoritma genetik multi-objektif untuk mengoptimalkan parameter kontrol peta kaotik. Kunci rahasia dibuat menggunakan peta kaotik beta. Kunci yang dihasilkan digunakan untuk mengenkripsi gambar. GA paralel juga digunakan untuk mengenkripsi gambar [97].

5.2.2 Pemrosesan gambar

Tugas pemrosesan gambar utama adalah prapemrosesan, segmentasi, deteksi objek, penghilangan derau, dan pengenalan. Segmentasi gambar merupakan langkah penting untuk memecahkan masalah pemrosesan gambar. Mengurai/mempartisi gambar memerlukan waktu komputasi yang tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, GA digunakan karena kemampuan pencariannya yang lebih baik [26, 102]. Peningkatan adalah teknik untuk meningkatkan kualitas dan kontras gambar. Kualitas gambar yang lebih baik diperlukan untuk menganalisis gambar yang diberikan. GA telah digunakan untuk meningkatkan kontras alami dan memperbesar gambar [40, 64, 99]. Beberapa peneliti sedang mengerjakan hibridisasi rough set dengan algoritma genetik adaptif untuk menggabungkan atribut noise dan warna. GA telah digunakan untuk menghilangkan noise dari gambar yang diberikan. GA dapat dihibridisasi dengan logika fuzzy untuk menghilangkan noise pada gambar. Teknik restorasi berbasis GA dapat digunakan untuk menghilangkan kabut, kabut tipis, dan asap dari gambar yang diberikan [8, 110, 146, 200]. Deteksi dan pengenalan objek merupakan masalah yang menantang dalam masalah dunia nyata. Model campuran Gaussian memberikan kinerja yang lebih baik selama proses deteksi dan pengenalan. Parameter kontrol dioptimalkan melalui GA [93].

5.2.3 Pemrosesan video

Segmentasi video telah banyak digunakan dalam pengenalan pola dan visi komputer. Ada beberapa masalah kritis yang terkait dengan segmentasi video. Masalah ini adalah membedakan objek dari latar belakang dan menentukan batas yang akurat. GA dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini [9, 105]. GA telah berhasil diimplementasikan untuk pengenalan gerakan oleh Chao et al. [81] menggunakan GA untuk pengenalan gerakan. Mereka menerapkan GA dan menemukan akurasi 95% dalam penglihatan robot. Kaluri dan Reddy [91] mengusulkan metode berbasis algoritma genetik adaptif bersama dengan pengklasifikasi fuzzy untuk pengenalan gerakan isyarat. Mereka melaporkan peningkatan tingkat pengenalan sebesar 85% dibandingkan dengan metode yang ada yang memberikan akurasi 79%.

Selain pengenalan gerakan, pengenalan wajah memainkan peran penting dalam identifikasi kriminal, kendaraan tak berawak, pengawasan, dan robot. GA mampu menangani oklusi, orientasi, ekspresi, pose, dan kondisi pencahayaan [69, 95, 109].

5.2.4 Pencitraan medis

Algoritma genetika telah diterapkan dalam pencitraan medis seperti deteksi tepi dalam MRI dan deteksi nodul paru dalam gambar pemindaian CT [100, 179]. Dalam [120], penulis menggunakan teknik pencocokan templat dengan GA untuk mendeteksi nodul dalam gambar CT. Kavitha dan Chellamuthu [179] menggunakan metode pertumbuhan wilayah berbasis GA untuk mendeteksi tumor otak. GA telah diterapkan pada masalah prediksi medis yang diambil dari subjek patologis. Sari dan Tuna [176] menggunakan GA untuk memecahkan masalah yang muncul dalam biomekanik. GA digunakan untuk memprediksi patologi selama pemeriksaan. Ghosh dan Bhattachrya [62] menerapkan GA sekuensial dengan automata seluler untuk memodelkan data penyakit virus corona 19 (COVID-19). GA dapat diterapkan dalam mode paralel untuk menemukan aturan dalam kumpulan data biologis [31]. Penulis mengusulkan GA paralel yang berjalan dengan membagi proses menjadi sub-generasi kecil dan mengevaluasi fitness setiap solusi individual secara paralel. Algoritma genetik digunakan dalam bidang kedokteran dan bidang terkait lainnya. Koh et al. [61] mengusulkan metode berbasis algoritma genetik untuk mengevaluasi efek samping obat tertentu.

 

5.2.5 Pertanian presisi

GA telah diterapkan pada berbagai masalah yang terkait dengan pertanian presisi. Masalah utamanya adalah hasil panen, deteksi gulma, dan peningkatan peralatan pertanian. Pachepsky dan Acock [145] menerapkan GA untuk menganalisis kapasitas air dalam tanah menggunakan citra penginderaan jauh. Hasil panen dapat diprediksi melalui kapasitas air yang ada dalam tanah. Identifikasi gulma dilakukan melalui GA dalam [142]. Mereka menggunakan citra udara untuk klasifikasi tanaman. Dalam [124], segmentasi citra warna digunakan untuk membedakan gulma dan tanaman. Peerlink et al. [154] menentukan tingkat pupuk yang tepat untuk berbagai bagian lahan pertanian. Mereka menggunakan GA untuk menentukan nitrogen di lahan gandum. Kebutuhan energi dalam sistem irigasi air dapat dioptimalkan dengan melihatnya sebagai masalah optimasi multi-objektif. Jumlah irigasi yang dibutuhkan dan kebutuhan daya berubah secara terus-menerus di pertanian SMART. Oleh karena itu, GA dapat diterapkan dalam sistem irigasi untuk mengurangi kebutuhan daya [33]

5.2.6 Game

GA telah berhasil digunakan dalam permainan seperti gomoku. Dalam [202], penulis menunjukkan bahwa pendekatan berbasis GA menemukan solusi yang memiliki fitness tertinggi daripada metode berbasis pohon normal. Namun, dalam permainan berbasis strategi waktu nyata, solusi berbasis GA menjadi kurang praktis untuk diterapkan [82]. GA telah diterapkan untuk masalah perencanaan jalur dengan mempertimbangkan kendala lingkungan serta menghindari rintangan untuk mencapai tujuan yang diberikan. Burchardt dan Salomon [18] menjelaskan implementasi untuk perencanaan jalur untuk permainan sepak bola. GA dapat mengodekan masalah perencanaan jalur melalui titik koordinat lapangan bermain dua dimensi, sehingga menghasilkan solusi dengan panjang variabel. Fungsi fitness dalam perencanaan jalur mempertimbangkan panjang jalur serta istilah penghindaran tabrakan untuk pemain sepak bola.

5.3 Jaringan nirkabel

Karena implementasi GA yang adaptif, terukur, dan mudah, GA telah digunakan untuk memecahkan berbagai masalah jaringan nirkabel. Masalah utama jaringan nirkabel adalah perutean, kualitas layanan, penyeimbangan beban, lokalisasi, alokasi lebar pita, dan penugasan saluran [128, 134]. GA telah dihibridisasi dengan metaheuristic lain untuk memecahkan masalah perutean. GA hibrida tidak hanya menghasilkan rute yang efisien di antara pasangan node, tetapi juga digunakan untuk penyeimbangan beban [24, 212].

5.3.1 Penyeimbangan beban

Saat ini, aplikasi multimedia memerlukan permintaan Kualitas Layanan (QoS) untuk penundaan dan lebar pita. Berbagai peneliti sedang mengerjakan GA untuk solusi berbasis QoS. GA menghasilkan solusi optimal untuk jaringan yang rumit [49]. Roy dkk. [172] mengusulkan GA multi-objektif untuk masalah perutean QoS multicast. GA digunakan dengan ACO dan algoritma pencarian lainnya untuk menemukan rute optimal dengan metrik QoS yang diinginkan. Penyeimbangan beban adalah masalah lain dalam jaringan nirkabel. Scully dan Brown [177] menggunakan MicroGA dan MacroGA untuk mendistribusikan beban di antara berbagai komponen jaringan. He dkk. [73] menerapkan GA untuk menentukan beban keseimbangan dalam jaringan sensor nirkabel. Cheng et al. [25] memanfaatkan GA terdistribusi dengan skema multipopulasi untuk penyeimbangan beban. Mereka menggunakan metrik penyeimbangan beban sebagai fungsi fitness dalam GA.

5.3.2 Lokalisasi

Proses penentuan lokasi node nirkabel disebut sebagai lokalisasi. Proses ini memainkan peran penting dalam manajemen bencana dan layanan militer. Yun et al. [216] menggunakan GA dengan logika fuzzy untuk mengetahui bobot, yang ditetapkan menurut kekuatan sinyal. Zhang et al. [218] menggabungkan GA dengan simulasi anil (SA) untuk menentukan posisi node nirkabel. SA digunakan sebagai pencarian lokal untuk menghilangkan konvergensi prematur.

 

5.3.3 Alokasi pita lebar dan kanal

Alokasi pita lebar yang tepat merupakan tugas yang rumit. GA dan variannya telah dikembangkan untuk memecahkan masalah alokasi pita lebar [92, 94, 107]. GA digunakan untuk menyelidiki alokasi pita lebar dengan kendala QoS. Fungsi fitness GA dapat terdiri dari pemanfaatan sumber daya, distribusi pita lebar, dan waktu komputasi [168]. Alokasi kanal merupakan isu penting dalam jaringan nirkabel. Tujuan utama alokasi kanal adalah untuk mengoptimalkan jumlah kanal dan penggunaan kembali frekuensi yang dialokasikan secara bersamaan. Friend et al. [59] menggunakan distributed island GA untuk menyelesaikan masalah alokasi kanal dalam jaringan radio kognitif. Zhenhua dkk. [221] menerapkan GA imun yang dimodifikasi untuk penugasan kanal. Mereka menggunakan skema pengodean dan operator imun yang berbeda. Pinagapany dan Kulkarni [157] mengembangkan GA paralel untuk menyelesaikan masalah alokasi kanal statis dan dinamis. Mereka menggunakan skema pengodean desimal. Tabel 10 merangkum aplikasi GA dan variannya.

 

6 Tantangan dan kemungkinan di masa mendatang

Di bagian ini, tantangan utama yang dihadapi selama implementasi GA dibahas diikuti oleh kemungkinan arah penelitian.

6.1 Tantangan

 

6.1.1 Pemilihan populasi awal

Populasi awal selalu dianggap sebagai faktor penting untuk kinerja algoritma genetik. Ukuran populasi juga memengaruhi kualitas solusi [160]. Para peneliti berpendapat bahwa jika populasi yang dipertimbangkan besar, maka algoritma membutuhkan waktu komputasi yang lebih lama. Namun, populasi yang kecil dapat menyebabkan solusi yang buruk [155]. Oleh karena itu, menemukan ukuran populasi yang tepat selalu menjadi masalah yang menantang. Harik dan Lobo [71] menyelidiki populasi menggunakan metode adaptasi diri. Mereka menggunakan dua pendekatan seperti (1) penggunaan adaptasi diri sebelum eksekusi algoritma, di mana ukuran populasi tetap sama dan (2) di mana adaptasi diri digunakan selama eksekusi algoritma di mana ukuran populasi dipengaruhi oleh fungsi fitness.

6.1.2 Konvergensi prematur

Konvergensi prematur merupakan masalah umum untuk GA. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya alel yang membuat sulit untuk mengidentifikasi gen [15]. Konvergensi prematur menyatakan bahwa hasilnya akan menjadi suboptimal jika masalah optimasi bertepatan terlalu dini. Untuk menghindari masalah ini, beberapa peneliti menyarankan agar keanekaragaman harus digunakan. Tekanan seleksi harus digunakan untuk meningkatkan keanekaragaman. Tekanan seleksi adalah tingkat yang menguntungkan individu yang lebih baik dalam populasi awal GA. Jika tekanan seleksi (SP1) lebih besar daripada beberapa tekanan seleksi (SP2), maka populasi yang menggunakan SP1 harus lebih besar daripada populasi yang menggunakan SP2. Tekanan seleksi yang lebih tinggi dapat menurunkan keanekaragaman populasi yang dapat menyebabkan konvergensi prematur [71]. Properti konvergensi harus ditangani dengan benar sehingga algoritma menemukan solusi optimal global alih-alih solusi optimal lokal (lihat Fig 8). Jika solusi optimal terletak di sekitar solusi yang tidak layak, maka sifat global GA dapat dikombinasikan dengan sifat lokal algoritma lain seperti pencarian Tabu dan pencarian lokal. Sifat global algoritma genetika dan sifat lokal pencarian Tabu memberikan keseimbangan yang tepat antara intensifikasi dan diversifikasi.

6.1.3 Pemilihan fungsi fitness yang efisien

Fungsi fitness adalah kekuatan pendorong, yang memainkan peran penting dalam memilih individu yang paling bugar dalam setiap iterasi suatu algoritma. Jika jumlah iterasi kecil, maka fungsi fitness yang mahal dapat disesuaikan. Peningkatan jumlah iterasi dapat meningkatkan biaya komputasi. Pemilihan fungsi fitness bergantung pada biaya komputasi serta kesesuaiannya. Dalam [46], penulis menggunakan indeks Davies-Bouldin untuk klasifikasi dokumen.

6.1.4 Derajat mutasi dan persilangan

Operator persilangan dan mutasi merupakan bagian integral dari GA. Jika mutasi tidak dipertimbangkan selama evolusi, maka tidak akan ada informasi baru yang tersedia untuk evolusi. Jika persilangan tidak dipertimbangkan selama evolusi, maka algoritma dapat menghasilkan optima lokal. Derajat operator ini sangat memengaruhi kinerja GA [72]. Keseimbangan yang tepat antara operator ini diperlukan untuk memastikan optima global. Sifat probabilistik tidak dapat menentukan derajat yang tepat untuk solusi yang efektif dan optimal.

6.1.5 Pemilihan skema penyandian

GA memerlukan skema penyandian tertentu untuk masalah tertentu. Tidak ada metodologi umum untuk memutuskan apakah skema penyandian tertentu cocok untuk semua jenis masalah di dunia nyata. Jika ada dua masalah yang berbeda, maka diperlukan dua skema penyandian yang berbeda. Ronald [171] menyarankan bahwa skema penyandian harus dirancang untuk mengatasi bentuk-bentuk yang redundan. Operator genetik harus diimplementasikan dengan cara yang tidak bias terhadap bentuk-bentuk yang redundan.

 

6.2 Arah penelitian di masa mendatang

GA telah diterapkan di berbagai bidang dengan memodifikasi struktur dasar GA. Optimalitas solusi yang diperoleh dari GA dapat ditingkatkan dengan mengatasi tantangan saat ini. Beberapa kemungkinan GA di masa mendatang adalah sebagai berikut:

1) Harus ada cara untuk memilih tingkat operator persilangan dan mutasi yang tepat. Misalnya, GA yang Terorganisir Sendiri mengadaptasi operator persilangan dan mutasi sesuai dengan masalah yang diberikan. Ini dapat menghemat waktu komputasi sehingga lebih cepat.

2) Pekerjaan di masa mendatang juga dapat dipertimbangkan untuk mengurangi masalah konvergensi prematur. Beberapa peneliti tengah berupaya dalam arah ini. Akan tetapi, disarankan bahwa diperlukan metode baru teknik persilangan dan mutasi untuk mengatasi masalah konvergensi prematur.

3) Algoritma genetika meniru proses evolusi alami. Ada kemungkinan ruang lingkup untuk mensimulasikan proses evolusi alamiah seperti respons sistem imun manusia dan mutasi pada virus.

4) Dalam masalah kehidupan nyata, pemetaan dari genotipe ke fenotipe bersifat rumit. Dalam situasi ini, masalah tidak memiliki blok penyusun yang jelas atau blok penyusun bukanlah kelompok gen yang berdekatan. Oleh karena itu, ada kemungkinan untuk mengembangkan skema penyandian baru untuk masalah yang berbeda yang tidak menunjukkan tingkat kesulitan yang sama.

7 Kesimpulan

Makalah ini menyajikan pandangan terstruktur dan terjelas tentang algoritma genetika. GA dan variannya telah dibahas dengan aplikasi. Operator genetika khusus aplikasi dibahas. Beberapa operator genetika dirancang untuk representasi. Akan tetapi, operator tersebut tidak berlaku untuk domain penelitian. Peran operator genetika seperti persilangan, mutasi, dan seleksi dalam mengurangi konvergensi prematur dipelajari secara ekstensif. Penerapan GA dan variannya dalam berbagai domain penelitian telah dibahas. Aplikasi multimedia dan jaringan nirkabel menjadi perhatian utama dalam makalah ini. Tantangan dan isu yang disebutkan dalam makalah ini akan membantu para praktisi untuk melaksanakan penelitian mereka. Ada banyak keuntungan menggunakan GA dalam domain penelitian lain dan algoritma metaheuristic.

Tujuan dari makalah ini tidak hanya menyediakan sumber penelitian terkini dalam GA, tetapi juga menyediakan informasi tentang setiap komponen GA. Ini akan mendorong para peneliti untuk memahami dasar-dasar GA dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam masalah penelitian mereka.

 

References

1.              Abbasi M, Rafiee M, Khosravi MR, Jolfaei A, Menon VG, Koushyar JM (2020) An efficient parallel genetic algorithm solution for vehicle routing problem in cloud implementation of the intelligent trans portation systems. Journal of cloud Computing 9(6)

2.              Abdelghany A, Abdelghany K, Azadian F (2017) Airline flight schedule planning under competition. Comput Oper Res 87:20–39

3.              Abdulal W, Ramachandram S (2011) Reliability-aware genetic scheduling algorithm in grid environment. International Conference on Communication Systems and Network Technologies, Katra, Jammu, pp 673 677

4.              Abdullah J (2010) Multiobjectives ga-based QoS routing protocol for mobile ad hoc network. Int J Grid Distrib Comput 3(4):57–68

5.              Abo-Elnaga Y, Nasr S (2020) Modified evolutionary algorithm and chaotic search for Bilevel program ming problems. Symmetry 12:767

6.              Afrouzy ZA, Nasseri SH, Mahdavi I (2016) A genetic algorithm for supply chain configuration with new product development. Comput Ind Eng 101:440–454

7.              Aiello G, Scalia G (2012) La, Enea M. A multi objective genetic algorithm for the facility layout problem based upon slicing structure encoding Expert Syst Appl 39(12):10352–10358

8.              Alaoui A, Adamou-Mitiche ABH, Mitiche L (2020) Effective hybrid genetic algorithm for removing salt and pepper noise. IET Image Process 14(2):289–296

9.              Alkhafaji BJ, Salih MA, Nabat ZM, Shnain SA (2020) Segmenting video frame images using genetic algorithms. Periodicals of Engineering and Natural Sciences 8(2):1106–1114

10.           Al-Oqaily AT, Shakah G (2018) Solving non-linear optimization problems using parallel genetic algo rithm. International Conference on Computer Science and Information Technology (CSIT), Amman, pp. 103–106

11.           Alvesa MJ, Almeidab M (2007) MOTGA: A multiobjective Tchebycheff based genetic algorithm for the multidimensional knapsack problem. Comput Oper Res 34:3458–3470

12.           Arakaki RK, Usberti FL (2018) Hybrid genetic algorithm for the open capacitated arc routing problem. Comput Oper Res 90:221–231

13.           Arkhipov DI, Wu D, Wu T, Regan AC (2020) A parallel genetic algorithm framework for transportation planning and logistics management. IEEE Access 8:106506–106515

14.           Azadeh A, Elahi S, Farahani MH, Nasirian B (2017) A genetic algorithm-Taguchi based approach to inventory routing problem of a single perishable product with transshipment. Comput Ind Eng 104:124 133

15.           Baker JE, Grefenstette J (2014) Proceedings of the first international conference on genetic algorithms and their applications. Taylor and Francis, Hoboken, pp 101–105

16.           Bolboca SD, JAntschi L, Balan MC, Diudea MV, Sestras RE (2010) State of art in genetic algorithms for agricultural systems. Not Bot Hort Agrobot Cluj 38(3):51–63

17.           Bonabeau E, Dorigo M, Theraulaz G (1999) Swarm intelligence: from natural to artificial systems. Oxford University Press, Inc

18.           Burchardt H, Salomon R (2006) Implementation of path planning using genetic algorithms on Mobile robots. IEEE International Conference on Evolutionary Computation, Vancouver, BC, pp 1831–1836

19.           Burdsall B, Giraud-Carrier C (1997) Evolving fuzzy prototypes for efficient data clustering," in second international ICSC symposium on fuzzy logic and applications. Zurich, Switzerland, pp. 217-223.

20.           Burkowski FJ (1999) Shuffle crossover and mutual information. Proceedings of the 1999 Congress on Evolutionary Computation-CEC99 (Cat. No. 99TH8406), Washington, DC, USA, 1999, pp. 1574–1580

21.           Chaiyaratana N, Zalzala AM (2000) "Hybridisation of neural networks and a genetic algorithm for friction compensation," in the 2000 congress on evolutionary computation, vol 1. San Diego, USA, pp 22–29

22.           Chen R, Liang C-Y, Hong W-C, Gu D-X (2015) Forecasting holiday daily tourist flow based on seasonal support vector regression with adaptive genetic algorithm. Appl Soft Comput 26:434–443

23.           J.R. Cheng and M. Gen (2020) Parallel genetic algorithms with GPU computing. Impact on Intelligent Logistics and Manufacturing.

24.           Cheng H, Yang S (2010) Multi-population genetic algorithms with immigrants scheme for dynamic shortest path routing problems in mobile ad hoc networks. Applications of evolutionary computation. Springer, In, pp 562–571

25.           Cheng H, Yang S, Cao J (2013) Dynamic genetic algorithms for the dynamic load balanced clustering problem in mobile ad hoc net-works. Expert Syst Appl 40(4):1381–1392

26.           Chouhan SS, Kaul A, Singh UP (2018) Soft computing approaches for image segmentation: a survey. Multimed Tools Appl 77(21):28483–28537

27.           Chuang YC, Chen CT, Hwang C (2016) A simple and efficient real-coded genetic algorithm for constrained optimization. Appl Soft Comput 38:87–105

28.           Coello CAC, Pulido GT (2001) A micro-genetic algorithm for multiobjective optimization. In: EMO, volume 1993 of lecture notes in computer science, pp 126–140. Springer

29.           Das,K.N.(2014). Hybrid genetic algorithm: an optimization tool. In global trends in intelligent computing Research and Development (pp. 268-305). IGI global.

30.           Das AK, Pratihar DK (2018) A direction-based exponential mutation operator for real-coded genetic algorithm. IEEE International Conference on Emerging Applications of Information Technology.

31.           Dash SR, Dehuri S, Rayaguru S (2013) Discovering interesting rules from biological data using parallel genetic algorithm, 3rd IEEE International Advance Computing Conference (IACC), Ghaziabad,, pp. 631 636.

32.           Datta D, Amaral ARS, Figueira JR (2011) Single row facility layout problem using a permutation-based genetic algorithm. European J Oper Res 213(2):388–394

33.           de Ocampo ALP, Dadios EP(2017) "Energy cost optimization in irrigation system of smart farm by using genetic algorithm," 2017IEEE 9th international conference on humanoid. Nanotechnology, Information Technology, Communication and Control, Environment and Management (HNICEM), Manila, pp 1–7

34.           Deb K, Agrawal RB(1995) Simulated binary crossover for continuous search space. Complex Systems 9: 115–148

35.           Deb K, Deb D (2014) Analysing mutation schemes for real-parameter genetic algorithms. International Journal of Artificial Intelligence and Soft Computing 4(1):1–28

36.           Deb K, Pratap A, Agarwal S, Meyarivan T (2002) A fast and elitist multiobjective genetic algorithm: NSGA-II. IEEE Trans Evol Comput 6(2):182–197

37.           Deep K, Das KN (2008) Quadratic approximation based hybrid genetic algorithm for function optimiza tion. Appl Math Comput 203(1):86–98

38.           DeepK,Thakur M(2007) A newmutation operator for real coded genetic algorithms. Appl Math Comput 193:211–230

39.           DeepK,ThakurM(2007)Anewcrossoveroperator forrealcoded genetic algorithms. Appl Math Comput 188:895–911

40.           Dhal KP, Ray S, Das A, Das S (2018) A survey on nature-inspired optimization algorithms and their application in image enhancement domain. Archives of Computational Methods in Engineering 5:1607 1638

41.           Dhiman G, KumarV(2017)Spotted hyena optimizer: A novel bio-inspired based metaheuristic technique for engineering applications. Adv Eng Softw 114:48–70

42.           Dhiman G, Kumar V (2018) Emperor penguin optimizer: A bio-inspired algorithm for engineering problems. Knowl-Based Syst 159:20–50

43.           Dhiman G, Kumar V (2019) Seagull optimization algorithm: theory and its applications for large-scale industrial engineering problems. Knowl-Based Syst 165:169–196

44.           Di Fatta G, Hoffmann F, Lo Re G, Urso A (2003) A genetic algorithm for the design of a fuzzy controller for active queue management. IEEE Trans Syst Man Cybern Part C Appl Rev 33(3):313–324

45.           Diabat A, Deskoores R (2016) A hybrid genetic algorithm based heuristic for an integrated supply chain problem. J Manuf Syst 38:172–180

46.           Diaz-Manríquez A, Ríos-Alvarado AB, Barrón-Zambrano JH, Guerrero-Melendez TY, Elizondo-Leal JC (2018) An automatic document classifier system based on genetic algorithm and taxonomy. IEEE Access 6:21552–21559. https://doi.org/10.1109/ACCESS.2018.2815992

47.           Dorigo M, Birattari M, Stutzle T (2006) Ant colony optimization- artificial ants as a computational intelligence technique. IEEE Comput Intell Mag 1(2006):28–39

48.           Ebrahimzadeh R, Jampour M (2013) Chaotic genetic algorithm based on Lorenz chaotic system for optimization problems. I.J. Intelligent Systems and Applications Intelligent Systems and Applications 05(05):19–24

49.           EkbataniFard GH, Monsefi R, Akbarzadeh-T M-R, Yaghmaee M et al. (2010) A multi-objective genetic algorithm based approach for energy efficient qos-routing in two-tiered wireless sensor net-works. In: wireless pervasive computing (ISWPC), 2010 5th IEEE international symposium on. IEEE, pp 80–85

50.           El-Mihoub T, Hopgood A, Nolle L, Battersby A (2004) Performance of hybrid genetic algorithms incorporating local search. In: Horton G (ed) 18th European simulation multi-conference (ESM2004). Germany, Magdeburg, pp 154–160

51.           El-Mihoub TA, Hopgood AA, Lars N, Battersby A (2006) Hybrid genetic algorithms: A review. Eng Lett 13:2

52.           Emmerich MTM, Deutz AH (2018) A tutorial on multiobjective optimization: fundamentals and evolu tionary methods. Nat Comput 17(3):585–609

53.           Eshelman LJ, Caruana RA, Schaffer JD (1997) Biases in the crossover landscape.

54.           Espinoza FB, Minsker B, Goldberg D (2003) Performance evaluation and population size reduction for self adaptive hybrid genetic algorithm (SAHGA), in the Genetic and Evolutionary Computation Conference, vol. 2723, Lecture Notes in Computer Science San Francisco, USA: Springer, pp. 922–933.

55.           Farahani RZ, Elahipanah M (2008) A genetic algorithm to optimize the total cost and service level for just in-time distribution in a supply chain. Int J Prod Econ 111(2):229–243

56.           Fonseca CM, Fleming PJ (1993) Genetic algorithms for multiobjective optimization: formulation, discus-sion and generalization. In: ICGA, pp 416–423. Morgan Kaufmann

57.           Fox B, McMahon M (1991) Genetic operators for sequencing problems, in Foundations of Genetic Algorithms, G. Rawlins, Ed. Morgan Kaufmann Publishers, San Mateo,CA, Ed. 1991, pp. 284–300.

58.           Freisleben B, Merz P (1996) New genetic local search operators for the traveling salesman problem," in the Fourth Conference on Parallel Problem Solving from Nature vol. 1141, Lectures Notes in Computer Science, H.-M. Voigt, W. Ebeling, I. Rechenberg, and H.-P. Schwefel, Eds. Berlin, Germany: Springer-Verlag, pp. 890–899.

59.           Friend DH, EI Nainay, M, Shi Y, MacKenzie AB (2008) Architecture and performance of an island genetic algorithm-based cognitive network. In: Consumer communications and networking conference, 2008. CCNC 2008. 5th IEEE. IEEE, pp 993–997

60.           Fuertes G, Vargas M, Alfaro M, Soto-Garrido R, Sabattin J, Peralta M-A (2019) Chaotic genetic algorithm and the effects of entropy in performance optimization.

61.           Ghaheri A, Shoar S, Naderan M, Hoseini SS (2015) The applications of genetic algorithms in medicine. CJ 30:406–416

62.           Ghosh S, Bhattachrya S (2020) A data-driven understanding of COVID-19 dynamics using sequential genetic algorithm based probabilistic cellular automata. Applied Soft Computing. 96

63.           Ghoshal AK, Das N, Bhattacharjee S, Chakraborty G (2019) A fast parallel genetic algorithm based approach for community detection in large networks. International Conference on Communication Systems & Networks (COMSNETS), Bengaluru, India, pp. 95–101.

64.           Gogna A, Tayal A (2012) Comparative analysis of evolutionary algorithms for image enhancement. Int J Met 2(1)

65.           Goldberg D (1989) Genetic algorithm in search. Optimization and Machine Learning, Addison -Wesley, Reading, MA 1989

66.           Goldberg D, Lingle R (1985) Alleles, loci and the traveling salesman problem. In: Proceedings of the 1st international conference on genetic algorithms and their applications, vol. 1985. Los Angeles, USA, pp 154–159

67.           Guido R, Conforti D (2017) A hybrid genetic approach for solving an integrated multi-objective operating room planning and scheduling problem. Comput Oper Res 87:270–282

68.           Ha QM, Deville Y, Pham QD, Ha MH (2020) A hybrid genetic algorithm for the traveling salesman problem with drone. J Heuristics 26:219–247

69.           Haji Rassouliha A, Gamage TPB, Parker MD, Nash MP, Taberner AJ, Nielsen, PM (2013) FPGA implementation of 2D cross-correlation for real-time 3D tracking of deformable surfaces. In Proceedings of the2013 28th International Conference on Image and Vision Computing New Zealand (IVCNZ 2013), Wellington, New Zealand, 27–29 November 2013; IEEE: Piscataway, NJ, USA; pp. 352–357

70.           Harada T, Alba E (2020) Parallel genetic algorithms: a useful survey. ACM Computing Survey 53(4):1–39

71.           Harik GR, Lobo FG (1999) A parameter-less genetic algorithm, in Proceedings of the Genetic and Evolutionary Computation Conference, pp. 258–265.

72.           Hassanat A, Almohammadi K, Alkafaween E, Abunawas E, Hammouri A, Prasath VBS (December 2019) Choosing mutation and crossover ratios for genetic algorithms—A review with a new dynamic approach. Information 10:390. https://doi.org/10.3390/info10120390

73.           He J, Ji S, Yan M, Pan Y, Li Y (2012) Load-balanced CDS construction in wireless sensor networks via genetic algorithm. Int J Sens Netw 11(3):166–178

74.           Hedar A, Fukushima M (2003) Simplex coding genetic algorithm for the global optimization of nonlinear functions, in Multi-Objective Programming and Goal Programming, Advances in Soft Computing, T. Tanino, T. Tanaka, and M. Inuiguchi, Eds.: Springer-Verlag, pp. 135–140.

75.           Helal MHS, Fan C, Liu D, Yuan S (2017) Peer-to-peer based parallel genetic algorithm. International Conference on Information, Communication and Engineering (ICICE), Xiamen, pp 535–538

76.           Hiassat A, Diabat A, Rahwan I (2017) A genetic algorithm approach for location-inventory-routing problem with perishable products. J Manuf Syst 42:93–103

77.           Holland JH (1975) Adaptation in natural and artificial systems. The U. of Michigan Press

78.           Hong W-C, Dong Y, Chen L-Y, Wei S-Y (2011) SVR with hybrid chaotic genetic algorithms for tourism demand forecasting. Appl Soft Comput 11(2):1881–1890

79.           Hong T-P, Lee Y-C, Min-Thai W (2014) An effective parallel approach for genetic-fuzzy data mining. Exp Syst Applic 41(2):655–662

80.           Horn J, Nafpliotis N, Goldberg DE. (1994) A niched Pareto genetic algorithm for multiobjective optimization. Proceedings of the First IEEE Conference on Evolutionary Computation, IEEE World Congress on Computational Intelligence, vol. 1, Piscataway, NJ: IEEE Service Center, p. 67–72.

81.           Hu C, Wang X, Mandal MK, Meng M, Li D (2003) Efficient face and gesture recognition techniques for robot control. Department of Electrical and Computer Engineering University of Alberta, Edmonton, AB, T6G 2V4, Canada. CCECE2003 - CCGEI 2003, Montreal, May/mai 2003 IEEE, pp 1757-1762.

82.           Peng Huo, Simon C. K. Shiu, Haibo Wang, Ben Niu (2009) Application and Comparison of Particle Swarm Optimization and Genetic Algorithm in Strategy Defense Game. Fifth International Conference on Natural Computation, pp 387–392.

83.           Hussain A, Muhammad YS, Nauman Sajid M, Hussain I, Mohamd Shoukry A, Gani S (2017) Genetic algorithm for traveling salesman problem with modified cycle crossover operator. Computational intelli-gence and neuroscience 2017:1–7

84.           Ishibuchi H, Murata T (1998) A multi-objective genetic local search algorithm and its application to flowshop scheduling. IEEE Trans Syst Man Cybern Part C Appl Rev 28(3):392–403

85.           Jafari A, Khalili T, Babaei E, Bidram A (2020) Hybrid optimization technique using exchange market and GA. IEEE Access 8:2417–2427

86.           Jaszkiewicz A (February 2002) Genetic local search for multi-objective combinatorial optimization. Eur J Oper Res 137(1):50–71

87.           Javidi M, Hosseinpourfard R (2015) Chaos genetic algorithm instead genetic algorithm. Int J Inf Tech 12(2):163–168

88.           Jebari K (2013) Selection methods for genetic algorithms. Abdelmalek Essaâdi University. International Journal of Emerging Sciences 3(4):333–344

89.           Jiang S, Chin K-S, Wang L, Qu G, Tsui KL (2017) Modified genetic algorithm-based feature selection combined with pre-trained deep neural network for demand forecasting in outpatient department. Expert Syst Appl 82:216–230

90.           Jiang M, Fan X, Pei Z, Zhang Z (2018) Research on text feature clustering based on improved parallel genetic algorithm. Tenth International Conference on Advanced Computational Intelligence (ICACI), Xiamen, pp. 235–238

91.           Kaluri R, Reddy P (2016) Sign gesture recognition using modified region growing algorithm and adaptive genetic fuzzy classifier. International Journal of Intelligent Engineering and Systems 9(4):225–233

92.           Kandavanam G, Botvich D, Balasubramaniam S, Jennings B (2010) A hybrid genetic algorithm/variable neighborhood search approach to maximizing residual bandwidth of links for route planning. Artificial evolution. Springer, In, pp 49–60

93.           Kannan S (2020) Intelligent object recognition in underwater images using evolutionary-based Gaussian mixture model and shape matching. SIViP 14:877–885

94.           Karabudak D, Hung C-C, Bing B (2004) A call admission control scheme using genetic algorithms. In: Proceedings of the 2004ACM symposium on applied computing. ACM, pp 1151–1158

95.           Katz P, Aron M, Alfalou A (2001) A face-tracking system to detect falls in the elderly; SPIE newsroom. SPIE, Bellingham, WA, USA, p 201

96.           Kaur M, Kumar V (2018) Beta chaotic map based image encryption using genetic algorithm. Int J Bifurcation Chaos 28(11):1850132

97.           Kaur M, Kumar V (2018) Parallel non-dominated sorting genetic algorithm-II-based image encryption technique. The Imaging Science Journal. 66(8):453–462

98.           Kaur M, Kumar V (2018) Fourier–Mellin moment-based intertwining map for image encryption. Modern Physics Letters B 32(9):1850115

99.           Kaur G, Bhardwaj N, Singh PK (2018) An analytic review on image enhancement techniques based on soft computing approach. Sensors and Image Processing, Advances in Intelligent Systems and Computing 651:255–266

100.         Kavitha AR, Chellamuthu C (2016) Brain tumour segmentation from MRI image using genetic algorithm with fuzzy initialisation and seeded modified region growing (GFSMRG) method. The Imaging Science Journal 64(5):285–297

101.         Kennedy J, Eberhart RC (1995) Particle swarm optimization. In: Proceedings of IEEE international conference on neural networks (1995), pp 1942–1948

102.         Khan, A., ur Rehman, Z., Jaffar, M.A., Ullah, J., Din, A., Ali, A., Ullah, N. (2019) Color image segmentation using genetic algorithm with aggregation-based clustering validity index (CVI). SIViP 13(5), 833–841

103.         Kia R, Khaksar-Haghani F, Javadian N, Tavakkoli-Moghaddam R (2014) Solving a multi-floor layout design model of a dynamic cellular manufacturing system by an efficient genetic algorithm. J Manuf Syst 33(1):218–232

104.         Kim EY, Jung K (2006) Genetic algorithms for video segmentation. Pattern Recogn 38(1):59–73

105.         Kim EY, Park SH (2006) Automatic video segmentation using genetic algorithms. Pattern Recogn Lett 27(11):1252–1265

106.         Kita H, Ono I, Kobayashi S (1999). The multi-parent unimodal normal distribution crossover for real-coded genetic algorithms. Proceedings of the 1999 Congress on Evolutionary Computation, vol. 2, IEEE (1999), pp. 1588–1595

107.         Kobayashi H, Munetomo M, Akama K, Sato Y (2004) Designing a distributed algorithm for bandwidth allocation with a genetic algorithm. Syst Comput Jpn 35(3):37–45

108.         Konak A, Smith AE (1999) A hybrid genetic algorithm approach for backbone design of communication networks, in the 1999 Congress on Evolutionary Computation. Washington D.C, USA: IEEE, pp. 1817-1823.

109.         Kortil Y, Jridi M, Falou AA, Atri M (2020) Face recognition systems: A survey. Sensors. 20:1–34

110.         Krishnan N, Muthukumar S, Ravi S, Shashikala D, Pasupathi P (2013) Image restoration by using evolutionary technique to Denoise Gaussian and impulse noise. In: Prasath R., Kathirvalavakumar T. (eds) mining intelligence and knowledge exploration. Lecture notes in computer science, vol 8284. Springer, Cham.

111.         Kumar A (2013) Encoding schemes in genetic algorithm. Int J Adv Res IT Eng 2(3):1–7

112.         Kumar V, Kumar D (2017) An astrophysics-inspired grey wolf algorithm for numerical optimization and its application to engineering design problems. Adv Eng Softw 112:231–254

113.         Kumar V, Chhabra JK, Kumar D (2014) Parameter adaptive harmony search algorithm for unimodal and multimodal optimization problems. J Comput Sci 5(2):144–155

114.         Kumar C, Singh AK, Kumar P (2017) A recent survey on image watermarking techniques and its application in e-governance. MultiMed Tools Appl.

115.         Kurdi M (2016) An effective new island model genetic algorithm for job shop scheduling problem. Comput Oper Res 67(2016):132–142

116.         Larranaga P, Kuijpers CMH, Murga RH, Yurramendi Y (July 1996) Learning Bayesian network structures by searching for the best ordering with genetic algorithms. in IEEE Transactions on Systems, Man, and Cybernetics - Part A: Systems and Humans 26(4):487–493

117.         Larranaga P, Kuijpers C, Murga R, Inza I, Dizdarevic S (1999) Genetic algorithms for the travelling salesman problem: a review of representations and operators. Artificial Intelligence Review 13:129–170

118.         Chang-Yong Lee (2003) Entropy-Boltzmann selection in the genetic algorithms. IEEE Transactions on Systems, Man, and Cybernetics, Part B (Cybernetics), vol. 33, no. 1, pp. 138–149, Feb. 2003.

119.         Lee CKH (2018) A review of applications of genetic algorithms in operations management. Eng Appl Artif Intell 76:1–12

120.         Lee Y, Hara T, Fujita H, Itoh S, Ishigaki T (July 2001) Automated detection of pulmonary nodules in helical CT images based on an improved template-matching technique. in IEEE Transactions on Medical Imaging 20(7):595–604

121.         Joon-Yong Lee, Min-Soeng Kim, Cheol-Taek Kim and Ju-Jang Lee (2007) Study on encoding schemes in compact genetic algorithm for the continuous numerical problems,SICE Annual Conference 2007, Takamatsu, pp. 2694–2699.

122.         Leng LT (1999) Guided genetic algorithm. University of Essex, Doctoral Dissertation

123.         Li B, Li J, Tang K, Yao X (2015) Many-objective evolutionary algorithms: A survey. ACM Computing surveys

124.         Lie Tang L (2000) Tian and Brian L steward, "color image segmentation with genetic algorithm for in-field weed sensing". Transactions of the ASAE 43(4):1019–1027

125.         Lima S.J.A., de Araújo S.A. (2018) A new binary encoding scheme in genetic algorithm for solving the capacitated vehicle routing problem. In: Korošec P., Melab N., Talbi EG. (eds) Bioinspired Optimization Methods and Their Applications. BIOMA 2018. Lecture notes in computer science, vol 10835. Springer, Cham

126.         Liu D (2019) Mathematical modeling analysis of genetic algorithms under schema theorem. Journal of Computational Methods in Sciences and Engineering 19:S131–S137

127.         Liu Z, Meng Q, Wang S (2013) Speed-based toll design for cordon-based congestion pricing scheme. Transport Res Part C: Emerg Technol 31(2013):83–98

128.         Lorenzo B, Glisic S (2013) Optimal routing and traffic scheduling for multihop cellular networks using genetic algorithm. IEEE Trans Mob Comput 12(11):2274–2288

129.         Lucasius CB, Kateman G (1989) Applications of genetic algorithms in chemometrics. In: Proceedings of the 3rd international conference on genetic algorithms. Morgan Kaufmann, Los Altos, CA, USA, pp 170–176

130.         Luo B, Jinhua Zheng, Jiongliang Xie, Jun Wu. Dynamic crowding distance – a new diversity maintenance strategy for MOEAs. ICNC ‘08, Fourth Int. Conf. on Natural Comp., vol. 1 (2008), pp. 580–585

131.         Maghawry A, Kholief M, Omar Y, Hodhod R (2020) An approach for evolving transformation sequences using hybrid genetic algorithms. Int J Intell Syst 13(1):223–233

132.         Manzoni L, Mariot L, Tuba E (2020) Balanced crossover operators in genetic algorithms. Swarm and Evolutionary Computation 54:100646

133.         Mazinani M, Abedzadeh M, Mohebali N (2013) Dynamic facility layout problem based on flexible bay structure and solving by genetic algorithm. Int J Adv Manuf Technol 65(5–8):929–943

134.         Mehboob U, Qadir J, Ali S, Vasilakos A (2016) Genetic algorithms in wireless networking: techniques, applications, and issues. Soft Comput 20:2467–2501

135.         Michalewicz Z (1992) Genetic algorithms + data structures = evolution programs. Springer-Verlag, New York

136.         Michalewicz Z, Schoenauer M (1996) Evolutionary algorithms for constrained parameter optimization problems. Evol Comput 4(1):1–32

137.         Mishra R, Das KN (2017). A novel hybrid genetic algorithm for unconstrained and constrained function optimization. In bio-inspired computing for information retrieval applications (pp. 230-268). IGI global

138.         Moher D, Liberati A, Tetzlaff J, Altman DG, The PRISMA Group (2009) Preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses: the PRISMA statement. PLoS Med 6(7):e1000097

139.         Mooi S, Lim S, Sultan M, Bakar A, Sulaiman M, Mustapha A, Leong KY (2017) Crossover and mutation operators of genetic algorithms. International Journal of Machine Learning and Computing 7:9–12

140.         Mudaliar DN, Modi NK (2013) Unraveling travelling salesman problem by genetic algorithm using m-crossover operator. International Conference on Signal Processing, Image Processing & Pattern Recognition, Coimbatore, pp 127–130

141.         T. Murata and M. Gen (2000) Cellular genetic algorithm for multi-objective optimization, in Proceedings of the Fourth Asian Fuzzy System Symposium, pp. 538–542

142.         Neto JC, Meyer GE, Jones DD (2006) Individual leaf extractions from young canopy images using gustafsonkessel clustering and a genetic algorithm. Comput Electron Agric 51(1):66–85

143.         NKFC, Viswanatha SDK (2009) Routing algorithm using mobile agents and genetic algorithm. Int J Comput Electr Eng, vol 1, no 3

144.         Ono I, Kobayashi S (1997) A real-coded genetic algorithm for functional optimization using unimodal normal distribution crossover. In: Back T (ed) Proceedings of the 7th international conference on genetic algorithms, ICGA-7. Morgan Kaufmann, East Lansing, MI, USA, pp 246–253

145.         Pachepsky Y, Acock B (1998) Stochastic imaging of soil parameters to assess variability and uncertainty of crop yield estimates. Geoderma 85(2):213–229

146.         Paiva JPD, Toledo CFM, Pedrini H (2016) An approach based on hybrid genetic algorithm applied to image denoising problem. Appl Soft Comput 46:778–791

147.         Palencia AER, Delgadillo GEM (2012) A computer application for a bus body assembly line using genetic algorithms. Int J Prod Econ 140(1):431–438

148.         Palomo-Romero JM, Salas-Morera L, García-Hernández L (2017) An island model genetic algorithm for unequal area facility layout problems. Expert Syst Appl 68:151–162

149.         Pandian S, Modrák V (December 2009) "possibilities, obstacles and challenges of genetic algorithm in manufacturing cell formation," advanced logistic systems, University of Miskolc. Department of Material Handling and Logistics 3(1):63–70

150.         Park Y-B, Yoo J-S, Park H-S (2016) A genetic algorithm for the vendor-managed inventory routing problem with lost sales. Expert Syst Appl 53:149–159

151.         Patel R, Raghuwanshi MM, Malik LG (2012) Decomposition based multi-objective genetic algorithm (DMOGA) with opposition based learning

152.         Pattanaik JK, Basu M, Dash DP (2018) Improved real coded genetic algorithm for dynamic economic dispatch. Journal of electrical systems and information technology. Vol. 5(3):349–362

153.         Payne AW, Glen RC (1993) Molecular recognition using a binary genetic system. J Mol Graph 11(2):74–91

154.         Peerlinck A, Sheppard J, Pastorino J, Maxwell B (2019) Optimal Design of Experiments for precision agriculture using a genetic algorithm. IEEE Congress on Evolutionary Computation.

155.         Pelikan M, Goldberg DE, Cantu-Paz E (2000) Bayesian optimization algorithm, population sizing, and time to convergence, Illinois Genetic Algorithms Laboratory, University of Illinois, Tech. Rep

156.         Pilat ML, White T (2002) Using genetic algorithms to optimize ACS-TSP, in the Third International Workshop on Ant Algorithms, vol. Lecture Notes In Computer Science 2463. Berlin, Germany: Springer-Verlag, pp. 282–287.

157.         Pinagapany S, Kulkarni A (2008) Solving channel allocation problem in cellular radio networks using genetic algorithm. In: Communication Systems software and middleware and workshops, 2008.COMSWARE 2008. 3rd International Conference on. IEEE, pp239–244

158.         Pinel F, Dorronsoro B, Bouvry P (2013) Solving very large instances of the scheduling of independent tasks problem on the GPU. J Parallel Distrib. Comput 73(1):101–110

159.         Pinto G, Ainbinder I, Rabinowitz G (2009) A genetic algorithm-based approach for solving the resource-sharing and scheduling problem. Comput Ind Eng 57(3):1131–1143

160.         Piszcz A, Soule T (2006) Genetic programming: optimal population sizes for varying complexity problems, in Proceedings of the Genetic and Evolutionary Computation Conference, pp. 953–954.

161.         Porta J, Parapar R, Doallo F, Rivera F, Santé I, Crecente R (2013) High performance genetic algorithm for land use planning. Comput Environ Urb Syst 37(2013):45–58

162.         Rafsanjani MK, Riyahi M (2020) A new hybrid genetic algorithm for job shop scheduling problem. International Journal of Advanced Intelligence Paradigms 16(2):157–171

163.         Rathi R, Acharjya DP (2018) A framework for prediction using rough set and real coded genetic algorithm. Arab J Sci Eng 43(8):4215–4227

164.         Rathi R, Acharjya DP (2018) A rule based classification for vegetable production using rough set and genetic algorithm. International Journal of Fuzzy System Applications (IJFSA) 7(1):74–100

165.         Rathi R, Acharjya DP (2020) A comparative study of genetic algorithm and neural network computing techniques over feature selection, In advances in distributed computing and machine learning (pp. 491–500). Springer, Singapore

166.         Ray SS, Bandyopadhyay S, Pal SK (2004) New operators of genetic algorithms for traveling salesman problem," Proceedings of the 17th International Conference on Pattern Recognition, 2004. ICPR 2004., Cambridge pp 497-500

167.         Richter JN, Peak D (2002) Fuzzy evolutionary cellular automata, in international conference on artificial neural networks in engineering, vol 12. USA, Saint Louis pp. 185-191

168.         Riedl A (2002) A hybrid genetic algorithm for routing optimization in ip networks utilizing bandwidth and delay metrics. In: IP operations and management, 2002 IEEE Workshop on. IEEE, pp 166–170

169.         Ripon KSN, Siddique N, Torresen J (2011) Improved precedence preservation crossover for multi-objective job shop scheduling problem. Evolving Systems 2:119–129

170.         Roberge V, Tarbouchi M, Okou F (2014) Strategies to accelerate harmonic minimization in multilevel inverters using a parallel genetic algorithm on graphical processing unit. IEEE Trans Power Electron 29(10):5087–5090

171.         Ronald S (1997) Robust encoding in genetic algorithms: a survey of encoding issues. IEEE international conference on evolutionary computation, pp. 43-48

172.         Roy A, Banerjee N, Das SK (2002) An efficient multi-objective qos-routing algorithm for wireless multicasting. In:Vehicular technology conference, 2002. VTC Spring 2002. IEEE 55th, vol 3., pp 1160–1164

173.         Sadrzadeh A (2012) A genetic algorithm with the heuristic procedure to solve the multi-line layout problem. Comput Ind Eng 62(4):1055–1064

174.         Sahingoz OK (2014) Generation of Bezier curve-based flyable trajectories for multi-UAV systems with parallel genetic algorithm. J Intell Robot Syst 74(1):499–511

175.         Saini N (2017) Review of selection methods in genetic algorithms. International Journal of Engineering and Computer Science 6(12):22261–22263

176.         Sari M, Can T (2018) Prediction of pathological subjects using genetic algorithms. Computational and Mathematical Methods in Medicine 2018:1–9

177.         Scully T, Brown KN (2009) Wireless LAN load balancing with genetic algorithms. Knowl Based Syst 22(7):529–534

178.         Sermpinis G, Stasinakis C, Theofilatos K, Karathanasopoulos A (2015) Modeling, forecasting and trading the EUR exchange rates with hybrid rolling genetic algorithms–support vector regression forecast combinations. European J. Oper. Res. 247(3):831–846

179.         Shabankareh SG, Shabankareh SG (2019) Improvement of edge-tracking methods using genetic algorithm and neural network, 2019 5th Iranian conference on signal processing and intelligent systems (ICSPIS). Shahrood, Iran, pp 1–7. https://doi.org/10.1109/ICSPIS48872.2019.9066026

180.         Sharma S, Gupta K (2011) Solving the traveling salesman problem through genetic algorithm with new variation order crossover. International Conference on Emerging Trends in Networks and Computer Communications (ETNCC), Udaipur, pp. 274–276

181.         Sharma N, Kaushik I, Rathi, R, Kumar S (2020) Evaluation of accidental death records using hybrid genetic algorithm. Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=3563084 or https://doi.org/10.2139/ssrn.3563084

182.         Shayeghi A, Gotz D, Davis JBA, Schafer R, Johnston RL (2015) Pool-BCGA: A parallelised generation-free genetic algorithm for the ab initio global optimisation of nano alloy clusters. Phys Chem Chem Phys 17(3):2104–2112

183.         Guoyong Shi, H. Iima and N. Sannomiya (1996) A new encoding scheme for solving job shop problems by genetic algorithm, Proceedings of 35th IEEE Conference on Decision and Control, Kobe, Japan, 1996, pp. 4395–4400 vol.4.

184.         Shi J, Liu Z, Tang L, Xiong J (2017) Multi-objective optimization for a closed-loop network design problem using an improved genetic algorithm. Appl Math Model 45:14–30

185.         Shukla AK, Singh P, Vardhan M (2019) A new hybrid feature subset selection framework based on binary genetic algorithm and information theory. International Journal of Computational Intelligence and Applications 18(3):1950020(1–10)

186.         Singh A, Deep K (2015) Real coded genetic algorithm operators embedded in gravitational search algorithm for continuous optimization. Int J Intell Syst Appl 7(12):1

187.         Sivanandam SN, Deepa SN (2008) Introduction to genetic algorithm, 1st edn. Springer-Verlag, Berlin Heidelberg

188.         Soleimani H, Kannan G (2015) A hybrid particle swarm optimization and genetic algorithm for closed-loop supply chain network design in large-scale networks. Appl Math Model 39(14):3990–4012

189.         Soleimani H, Govindan K, Saghafi H, Jafari H (2017) Fuzzy multi-objective sustainable and green closed-loop supply chain network design. Comput Ind Eng 109:191–203

190.         Soon GK, Guan TT, On CK, Alfred R, Anthony P (2013) "A comparison on the performance of crossover techniques in video game," 2013 IEEE international conference on control system. Computing and Engineering, Mindeb, pp 493–498

191.         Srinivas N, Deb K (1995) Multi-objective function optimization using non-dominated sorting genetic algorithms. Evol Comput 2(3):221–248

192.         Subbaraj P, Rengaraj R, Salivahanan S (2011) Enhancement of self-adaptive real-coded genetic algorithm using Taguchi method for economic dispatch problem. Appl Soft Comput 11(1):83–92

193.         Tahir M, Tubaishat A, Al-Obeidat F, et al. (2020) A novel binary chaotic genetic algorithm for feature selection and its utility in affective computing and healthcare. Neural Comput & Appl

194.         Tam V, Cheng K-Y, Lui K-S (2006) Using micro-genetic algorithms to improve localization in wireless sensor networks. J Commun 1(4):1–10

195.         Tan KC, Li Y, Murray-Smith DJ, Sharman KC (1995) System identification and linearisation using genetic algorithms with simulated annealing, in First IEE/IEEE Int. Conf. on GA in Eng. Syst.: Innovations and Appl. Sheffield, UK, pp. 164–169.

196.         Tang PH, Tseng MH (2013) Adaptive directed mutation for real-coded genetic algorithms. Appl Soft Comput 13(1):600–614

197.         Tiong SK, Yap DFW, Koh SP (2012) A comparative analysis of various chaotic genetic algorithms for multimodal function optimization. Trends in Applied Sciences Research 7:785–791

198.         Toutouh J, Alba E (2017) Parallel multi-objective metaheuristics for smart communications in vehicular networks. Soft Comput 21(8):1949–1961

199.         Umbarkar A, Sheth P (2015) Crossover operators in genetic algorithms: a review. Journal on Soft Computing 6(1)

200.         Verma D, Vishwakarma VP, Dalal S (2020) A hybrid self-constrained genetic algorithm (HSGA) for digital image Denoising based on PSNR improvement. Advances in Bioinformatics, Multimedia, and Electronics Circuits and Signals, In, pp 135–153

201.         Vitayasak S, Pongcharoen P, Hicks C (2016) A tool for solving stochastic dynamic facility layout problems with stochastic demand using either a genetic algorithm or modified backtracking search algorithm. Int J Prod Econ

202.         Junru Wang and Lan Huang (2014) Evolving gomoku Solver by Genetic Algorithm. IEEE Workshop on Advanced Research and Technology in Industry Applications (WARTIA) pp 1064–1067.

203.         Wang L, Kan MS, Shahriar Md R, Tan ACC (2014) Different approaches of applying single-objective binary genetic algorithm on the wind farm design. In World Congress on Engineering Asset Management.

204.         Wang N, Li Q, Abd El-Latif AA, Zhang T, Niu X (2014) Toward accurate localization and high recognition performance for noisy iris images. Multimed Tools Appl 71(3):1411–1430

205.         Wang JQ, Ersoy OK, He MY et al (2016) Multi-offspring genetic algorithm and its application to the traveling salesman problem. Appl Soft Comput 43:415–423

206.         Wang FL, Fu XM, Zhu HX et al (2016) Multi-child genetic algorithm based on two-point crossover. J Northeast Agric Univ 47(3):72–79

207.         Wang JQ, Cheng ZW, Ersoy OK et al (2018) Improvement analysis and application of real-coded genetic algorithm for solving constrained optimization problems. Math Probl Eng 2018:1–16

208.         Wang J, Zhang M, Ersoy OK, Sun K, Bi Y (2019) An improved real-coded genetic algorithm using the Heuristical Normal distribution and direction-based crossover. Computational Intelligence and Neuroscience 2019:1–17

209.         Wen Z, Yang R, Garraghan P, Lin T, Xu J, Rovatsos M (2017) Fog orchestration for internet of things services. IEEE Internet Comput 21(2) (Mar. 2017):16–24

210.         Wright AH (1991) Genetic algorithms for real parameter optimization. In Foundations of genetic algorithms I,G. J. E. Rawlins, Ed., Morgan Kaufmann, San Mateo, CA,USA

211.         Wu X, Chu C-H, Wang Y, Yan W (2007) A genetic algorithm for cellular manufacturing design and layout. European J Oper Res 181(1):156–167

212.         Yang S, Cheng H, Wang F (2010) Genetic algorithms with immigrants and memory schemes for dynamic shortest path routing problems in mobile ad hoc networks. IEEE Trans Syst Man Cybern Part C Appl Rev 40(1):52–63

213.         Yang C, Li H, Rezgui Y, Petri I, Yuce B, Chen B, Jayan B (2014) High throughput computing based distributed genetic algorithm for building energy consumption optimization. Energy Build 76(2014):92–101

214.         Yu F, Xu X (2014) A short-term load forecasting model of natural gas based on optimized genetic algorithm and improve BR neural network. Appl Energy 134:102–113

215.         Yuce B, Fruggiero F, Packianather MS, Pham DT, Mastrocinque E, Lambiase A, Fera M (2017) Hybrid genetic bees algorithm applied to single machine scheduling with earliness and tardiness penalties. Comput Ind Eng 113:842–858

216.         Yun S, Lee J, Chung W, Kim E, Kim S (2009) A soft computing approach to localization in wireless sensor networks. Expert Syst Appl 36(4):7552–7561

217.         Zhai R (2020) Solving the optimization of physical distribution routing problem with hybrid genetic algorithm. J Phys Conf Ser 1550:1–6

218.         Zhang Q, Wang J, Jin C, Zeng Q (2008) Localization algorithm for wireless sensor network based on genetic simulated annealing algorithm. In: 4th IEEE International Conference on Wireless communications, networking and mobile computing. Pp 1–5

219.         Zhang R, Ong SK, Nee AYC (2015) A simulation-based genetic algorithm approach for remanufacturing process planning and scheduling. Appl Soft Comput 37:521–532

220.         Zhang X-Y, Zhang J, Gong Y-J, Zhan Z-H, Chen W-N, Li Y (2016) Kuhn-Munkres parallel genetic algorithm for the set cover problem and its application to large-scale wireless sensor networks. IEEETrans Evol Comput 20(5):695–710

221.         Zhenhua Y, Guangwen Y, Shanwei L, Qishan Z (2010) A modified immune genetic algorithm for channel assignment problems in cellular radio networks. In: Intelligent system design and engineering application (ISDEA), 2010 International Conference on, vol 2. , pp 823–826


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cashless Society di Indonesia : Risiko dan Tantangan

Intelligent Network Maintenance Modeling for Fixed Broadband Networks in Sustainable Smart Homes

FTTH Fibre to The Home